Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Petasan Imlek 2026 di Kota Solo Ditiadakan, Ini Alasan dan Asal-usul Petasan dalam Perayaan Tahun Baru Cina

Tri wahyu Cahyono • Selasa, 3 Februari 2026 | 15:07 WIB

Ilustrasi petasan dalam perayaan Imlek.
Ilustrasi petasan dalam perayaan Imlek.


RADARSOLO.COM-Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Kota Solo dipastikan berlangsung tanpa penyalaan petasan maupun kembang api.

Keputusan tersebut menyusul tidak dikeluarkannya izin oleh pihak kepolisian, dengan mempertimbangkan situasi keamanan serta kondisi bencana alam yang terjadi belakangan ini.

Ketua Yayasan Kelenteng Tien Kok Sie Solo Sumantri Dana Waluya mengungkapkan, sebelumnya agenda penyalaan kembang api sempat masuk dalam pembahasan rapat persiapan Imlek.

“Kemarin di dalam rapat sudah ada agenda penyalaan kembang api, tetapi karena ada peristiwa bencana alam kemarin Polres tidak berani mengeluarkan izin,” ujar Sumantri.

Kawasan Pasar Gede yang menjadi pusat perayaan Imlek di Solo dikenal padat aktivitas dan dipadati pengunjung.

Sebab itu, keputusan meniadakan petasan dan kembang api diambil demi menjaga keamanan, ketertiban, serta menghormati situasi yang sedang terjadi.

Mengapa Imlek Identik dengan Petasan?

Meski bukan bagian utama dari ibadah, petasan memiliki makna simbolis dalam perayaan Imlek.

Secara tradisi, suara keras dari petasan dimaknai sebagai simbol pengusiran energi negatif dan penanda dimulainya tahun baru.

Dentuman petasan juga melambangkan kegembiraan dan semangat menyambut harapan baru.

Karena itu, petasan kerap identik dengan suasana meriah dan penuh suka cita saat pergantian tahun.

Namun dalam perkembangannya, tradisi ini tidak selalu harus diwujudkan secara harfiah.

Makna simbolis petasan dapat dipahami sebagai semangat membersihkan diri dari hal-hal buruk dan membuka lembaran baru, tanpa harus melalui suara ledakan.

Baca Juga: 5 Arti Mimpi Merayakan Imlek 2026: Pertanda Rezeki, Harmoni, dan Awal Baru di Tahun Baru

Asal-usul Petasan dalam Tradisi Imlek

Petasan memiliki sejarah panjang dalam tradisi Tionghoa.

Penggunaannya telah dikenal sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum petasan modern seperti sekarang diciptakan.

Pada masa Tiongkok kuno, masyarakat belum mengenal bubuk mesiu.

Untuk menciptakan suara keras, mereka menggunakan batang bambu yang dipanaskan di atas api.

Ketika dipanaskan, udara di dalam bambu memuai dan menyebabkan bambu meledak, menghasilkan suara keras.

Tradisi ini dikenal dengan sebutan baozhu, yang berarti “bambu meledak”.

Suara letupan dari bambu tersebut dipercaya mampu mengusir roh jahat dan energi negatif, terutama saat pergantian tahun.

Karena itulah, tradisi bunyi-bunyian keras kemudian lekat dengan perayaan Tahun Baru Imlek.

Seiring perkembangan zaman, tradisi ini berubah setelah ditemukannya bubuk mesiu.

Bubuk mesiu awalnya dimasukkan ke dalam bambu, lalu berkembang menggunakan kertas pembungkus hingga menjadi petasan seperti yang dikenal saat ini.

Dalam perayaan Imlek, petasan tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan atau penanda kemeriahan.

Suara keras dari petasan dimaknai sebagai simbol pengusiran energi buruk dan pembuka lembaran baru yang lebih baik.

Petasan juga melambangkan kegembiraan dan harapan, sebagai tanda bahwa tahun baru disambut dengan semangat dan optimisme.

Namun, makna petasan tidak terletak pada ledakannya, melainkan pada pesan simbolis tentang pembersihan diri dan keberanian menghadapi tahun yang baru.

Dalam praktiknya, tradisi Imlek terus menyesuaikan dengan kondisi sosial dan aturan yang berlaku.

Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa tradisi bersifat dinamis dan dapat berkembang tanpa kehilangan makna asal-usulnya. (agna)

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#asal usul petasan #petasan imlek #imlek di kota solo #perayaan Tahun Baru Imlek #Tahun Baru Cina #perayaan #petasan #makna petasan