RADARSOLO.COM – Antrean panjang kendaraan pengangkut sampah di TPA Putri Cempo Solo kembali terulang pada Selasa (10/2/2026). Kemacetan armada sampah yang mengular hingga ke jalan lingkungan Sibela, Mojosongo, memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Solo melakukan penataan ulang secara menyeluruh terhadap tata kelola pembuangan akhir di lokasi tersebut.
Kondisi yang terjadi sejak Senin (9/2) pagi hingga sore hari ini membuat aktivitas pengangkutan sampah dari wilayah pemukiman terhambat. Wali Kota Solo Respati Ardi secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi.
"Saya minta maaf pada warga Solo dan warga yang terdampak atas ketidaknyamanan ini," ujar Respati saat meninjau lokasi, Selasa (10/2).
Pemkot Solo mengonfirmasi bahwa penumpukan armada terjadi akibat kendala teknis, yakni rusaknya salah satu unit ekskavator utama di titik bongkar muat. Sebagai langkah darurat, pemerintah kota menerjunkan beberapa unit ekskavator tambahan untuk mempercepat penataan gundukan sampah agar arus kendaraan kembali lancar.
"Hari ini saya bawa beberapa ekskavator tambahan untuk melakukan penataan ulang di area pembuangan," tegas Respati.
Krisis ini sekaligus mengungkap belum efektifnya peran Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Putri Cempo dalam mengurangi beban overload. PLTSa tersebut dilaporkan belum mampu mengolah kiriman sampah baru sebanyak 400 ton per hari secara penuh, sementara tumpukan sampah eksisting di lahan seluas 17 hektar tersebut sudah melampaui 2 juta ton.
"Khusus untuk PLTSa, kinerjanya akan kita evaluasi lagi secara mendalam," kata Wali Kota.
Menyikapi kondisi TPA yang sudah dinyatakan overload sejak 2010, Pemkot Solo berkomitmen memperbarui roadmap tata kelola sampah. Strategi ke depan tidak hanya fokus pada penanganan di hilir (TPA), tetapi juga penguatan di hulu melalui keterlibatan masyarakat.
"Komitmen kami adalah membuat roadmap tentang sampah di Kota Solo. Teknisnya nanti akan ada penguatan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga agar mesin pengolah di TPA bisa bekerja lebih efektif," jelas Respati.
Baca Juga: Pakar Antropologi: Penghentian Biaya Visum Korban Kekerasan Seksual Hambat Akses Keadilan
Di sisi lain, para petugas sampah mengeluhkan durasi antre yang kini mencapai 1 hingga 1,5 jam. Haryanto, seorang petugas sampah asal Banjarsari, menyebut kejadian dua hari terakhir adalah yang terparah.
"Penyebab utamanya ya memang tempatnya sudah tidak memenuhi syarat karena sudah penuh sekali. Sebelumnya sering antre, tapi ini yang paling panjang," ungkapnya pasrah di tengah antrean armada. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno