Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Bukan Sekadar Insting, Ini Cara Sugiarto dan Tim Wanadri Temukan Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang Karanganyar

Arief Budiman • Kamis, 12 Februari 2026 | 18:04 WIB
Sugiarto ditemui Radar Solo di salah satu coffee shop di Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)
Sugiarto ditemui Radar Solo di salah satu coffee shop di Solo. (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Di dunia pendakian dan pencarian orang hilang (search and rescue), nama Wanadri (Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung) adalah jaminan ketenangan dan ketajaman insting. Hal itu terbukti kembali di lereng Bukit Mongkrang, Karanganyar. Saat operasi resmi ditutup, seorang pria berusia 55 tahun dengan tenang masuk ke belantara, mengandalkan peta, kompas, dan pengalaman 37 tahun untuk menjemput raga yang hilang.

Ia adalah Sugiarto, atau yang akrab disapa Didi. Anggota Wanadri angkatan 1993 ini menjadi aktor kunci di balik ditemukannya trail runner yang sempat hilang selama dua minggu. Baginya, hutan bukanlah tempat yang menakutkan, melainkan "area bermain" yang penuh dengan logika matematika dan navigasi.

Operasi yang dilakukan Sugiarto bersifat mandiri dan terbatas. Atas seizin pengelola Tahura, ia bersama tim kecil yang terdiri dari tujuh anggota Wanadri dan dua personel SAR Surabaya melakukan penyisiran dengan tiga syarat ketat. Yaitu, tanpa publikasi, tanpa atribut, dan tanpa sistem perkemahan (playing camp).

“Kami hanya sembilan orang di lapangan. Sistemnya tetap profesional. Ada yang menganalisis di bawah (SMC), pengendali di atas (OSC), dan kami yang merayap di lapangan (SRU),” ujar Sugiarto saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Solo di sebuah coffee shop kawasan Purwosari, Rabu malam (10/2).

Mengapa korban bisa hilang begitu lama di Mongkrang yang jalurnya lebar? Sugiarto punya jawabannya. Berdasarkan data yang ia olah, korban bukan sekadar pendaki, melainkan pelari lintas alam (trail run).

“Anak ini punya karakter ingin membuat kejutan atau surprise. Dia memotong jalur di luar rute resmi dengan harapan bisa lebih cepat sampai ke basecamp. Tapi yang terjadi, dia tidak bertemu jalur yang dimaksud dan malah masuk ke rabas-rabas hutan,” jelas pria yang mulai mendaki sejak 1989 ini.

Dengan kondisi fisik pelari yang prima, korban mampu menjangkau area yang sangat jauh dalam waktu singkat. Inilah yang membuat tim SAR sebelumnya terkecoh. Mereka mencari di radius yang dianggap normal, padahal korban sudah melenting jauh di luar koordinat prediksi awal.

Sugiarto dan tim hanya butuh tiga hari efektif untuk membuktikan analisanya di atas peta. Ia memprediksi korban terperosok ke arah lereng tebing. Dan benar saja, di sebuah lereng setinggi tujuh meter, ia menemukan subjek yang dicari.

“Analisa kami, dia terperosok saat berlari kencang ke arah bawah. Dia ditemukan di reruntuhan pohon pisang. Kemungkinan saat jatuh, dia mencoba berpegangan pada pohon pisang itu, tapi pohonnya ikut roboh menimpanya,” kenang Sugiarto.

Sebagai orang yang menjunjung tinggi etika rescue, Sugiarto sangat menjaga privasi korban. Ia menolak memberikan foto korban kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan, meskipun itu petugas lapangan.

“Kami punya kode etik. Posisi koordinat kami laporkan, tapi subjek tidak kami otak-atik demi menghormati korban,” tegasnya. (rif/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#karanganyar #bukit mongkrang #Yasid Ahmad Firdaus #wanadri #pendaki gunung #orang hilang