RADARSOLO.COM – Gelombang umat Tri Dharma (Buddha, Konghucu, dan Tao) silih berganti memadati Klenteng Tien Kok Sie di kawasan Pasar Gede pada Hari Raya Imlek 2026, Selasa (17/2). Setelah melaksanakan doa berjamaah pada malam pergantian tahun, para jemaat kini fokus melakukan sembahyang pribadi guna memohon keberkahan dan keberuntungan sepanjang tahun baru.
Pantauan di lokasi menunjukkan warga keturunan Tionghoa, baik yang datang secara mandiri maupun bersama keluarga, tampak khusyuk menyalakan dupa di depan altar dewa-dewi. Pintu klenteng yang bersebelahan dengan Pasar Gede ini dibuka selama 24 jam penuh untuk memfasilitasi umat yang terus berdatangan sejak pukul 04.00 WIB.
Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya menjelaskan bahwa peribadatan pada hari H Imlek memang lebih bersifat personal. "Setelah doa bersama pada malam pergantian tahun, hari ini adalah waktu bagi umat untuk berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan dan para dewa melalui doa mandiri," jelas Sumantri.
Lebih lanjut, Sumantri memaparkan makna filosofis di balik tahun baru kali ini. Menurutnya, tahun ini diwakili oleh lambang kuda yang dipadukan dengan elemen api, sebuah simbol kegigihan dan energi kehidupan. Kuda dipandang sebagai pekerja keras yang tak kenal lelah, sehingga tahun ini menjadi momentum bagi setiap orang untuk berjuang lebih keras mencapai kesejahteraan.
Baca Juga: Pesan Mbak Wawali di HUT Ke-281: Solo Boleh Modern, Tapi Jangan Pernah Lepaskan Akar Budaya
"Kuda adalah lambang kegigihan. Artinya, kita harus bekerja keras untuk mencapai apa yang diinginkan. Namun, yang paling krusial tetaplah menjaga perilaku baik agar mendatangkan karma yang positif bagi diri sendiri dan sesama," imbuh Sumantri.
Kemeriahan Imlek di Kota Bengawan tahun ini tidak hanya menarik minat warga lokal, tetapi juga wisatawan luar daerah. Andi Handoko, warga asal Semarang, sengaja memboyong keluarganya ke Solo untuk merasakan atmosfer religi sekaligus budaya yang kental di Klenteng Pasar Gede tersebut. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno