RADARSOLO.COM - Menginjak usia ke-281, Kota Solo terus memperkuat posisinya sebagai barometer kota paling layak huni (most livable city) di Indonesia. Transformasi pelayanan publik dan keterjangkauan biaya hidup kini menjadi daya tarik utama yang memikat para perantau maupun warga daerah penyangga untuk menggantungkan asa di Kota Bengawan.
DAYA tarik Kota Solo sebagai kota hunian ternyata mampu memikat hati siapa saja, termasuk bagi mereka yang datang sebagai perantau. Salah satunya Ahmad Kurnia, 27, perantau asal Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara.
Datang sebagai mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) pada 2016, Ahmad membuktikan bahwa keramahan Solo bukan sekadar mitos. Meski harga kebutuhan pokok perlahan naik, Solo dinilai masih sangat kompetitif bagi kantong pelajar dan pekerja pemula.
"Dulu uang Rp10 ribu sudah bisa makan kenyang. Sekarang dengan segala kenaikan harga, nominal Rp17 ribu hingga Rp18 ribu masih sangat relevan. Fasilitas kesehatan lengkap dan ruang publiknya sangat membantu, meski catatan besarnya ada pada kemacetan lalu lintas yang kian padat," ungkap Ahmad yang kini memilih berkarier sebagai pegawai swasta di Solo.
Senada dengan Ahmad, Sri Lestari, 44, warga Sukoharjo, tetap mengandalkan fasilitas pendidikan di Solo untuk anak-anaknya. Meski telah menetap di luar kota selama 18 tahun, ia menilai aksesitas dan kualitas layanan pendidikan di Solo jauh lebih unggul dan mudah dijangkau dibandingkan daerah sekitarnya.
“Saya ikut suami tinggal di Jogjakarta. Tapi anak-anak saya sekolah di Solo. Salah satunya karena selain nyaman, biaya hidup juga sangat lebih ramah dibanding kota-kota lain,” ujar Sri Lestari.
Reputasi Solo sebagai kota ramah bukan tanpa dasar data. Berdasarkan kajian Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP), Solo berulang kali menempati peringkat pertama Kota Paling Nyaman di Indonesia. Tercatat pada 2022, indeks livability Solo menyentuh angka 77 persen, meningkat signifikan dari 2017 yang berada di angka 66,9 persen.
Wali Kota Solo Respati Ardi, menegaskan bahwa Pemkot Solo kini fokus mengakselerasi program "Asta Cita Surakarta" hingga 2030. Visi ini mencakup penguatan layanan kesehatan terintegrasi melalui Posyandu Plus, pendirian UKM Center sebagai motor ekonomi, hingga program Rumah Siap Kerja.
"HUT ke-281 ini adalah simbol energi kebersamaan. Kami berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi semua orang, termasuk akses kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Optimisme ini kami wujudkan agar kesejahteraan benar-benar dirasakan oleh setiap orang yang menggantungkan hidup di Kota Solo," tegas Respati. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno