Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Refleksi HUT ke-281 Solo: Harmoni Tetap Terjaga, Jalin Persaudaraan Abadi

Kabun Triyatno • Selasa, 17 Februari 2026 | 07:05 WIB

Lampion di kawasan Pasar Gede bukti harmoni Kota Solo. (M Ihsan/Radar Solo)
Lampion di kawasan Pasar Gede bukti harmoni Kota Solo. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Kota Solo juga diikuti harmoni yang semakin kuat. Kegiatan antar agama dan etnis bisa berjalan beriringan dan bergantian tanpa ada gesekan. Ini membuktikan jati diri Kota Solo sebagai episentrum toleransi di Indonesia.

Seperti perhelatan Imlek 2026. Momentum ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan HUT ke-281 Kota Solo serta menjelang bulan suci Ramadan. Ini menciptakan potret nyata akulturasi yang melampaui sekat identitas kelompok di Kota Bengawan.

Pemerintah Kota (Pemkot) Solo memosisikan perayaan tahun ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ruang perjumpaan budaya dan dialog persaudaraan. Komitmen ini telah mendapat pengakuan nasional melalui raihan terbaik kedua Harmony Award 2025 dari pemerintah pusat, sebuah validasi atas upaya moderasi beragama dan harmoni sosial di tingkat kota.

"Ini adalah momentum krusial untuk menjaga nilai harmonisasi agar kita bisa hidup dalam suasana yang saling menghargai. Saat kue keranjang bersanding dengan gunungan dan barongsai menari bersama Reog, itulah wajah nyata Bhinneka Tunggal Ika di Solo," tegas Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani.

Akar keharmonisan ini tercermin kuat pada tradisi Grebeg Sudiro yang eksis sejak 2007. Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie Sumantri Dana Waluya mengatakan, event unggulan Karisma Event Nusantara ini lahir dari kolaborasi organik warga etnis Tionghoa dan masyarakat Jawa di Sudiroprajan. Simbolisme perpaduan terlihat pada gunungan yang biasanya berisi hasil bumi, digantikan dengan kue keranjang khas Tiongkok.

Uniknya, lanskap Kota Solo tahun ini dihiasi lampion shio yang berdiri berdampingan dengan dekorasi bernuansa Islami seperti bulan sabit, ketupat, dan replika Masjid Cheng Ho.

Ketua Panitia Imlek Bersama Sumartono Hadinoto menjelaskan bahwa langkah ini merupakan upaya merawat kebhinekaan sekaligus memperkuat posisi Solo sebagai kota wisata Imlek pascareformasi.

Dukungan serupa datang dari Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Solo KH Muhammad Mashuri. Ia menilai transformasi Solo menjadi kota yang aman dan nyaman adalah buah dari kerukunan yang telah mendarah daging. Sebagai bentuk solidaritas lintas iman, panitia Imlek bahkan telah menjadwalkan pembagian takjil gratis saat memasuki masa Ramadan mendatang.

Pemkot kini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak hanya menjadikan tradisi akulturasi ini sebagai tontonan, tetapi juga tuntunan hidup berdampingan. Semangat persatuan ini diharapkan terus diwariskan kepada generasi muda agar api toleransi di Solo tetap menyala sebagai aset bangsa yang tak ternilai. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#harmoni #event #wakil wali kota solo astrid widayani #bhinneka tunggal ika #kolaborasi #nusantara #kota solo