Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Wajah Harmoni Solo: Melirik Grebeg Sudiro 2026 yang Menjadi Saksi Akulturasi Jawa-Tionghoa yang Memukau

Damianus Bram • Rabu, 18 Februari 2026 | 11:36 WIB

 

Grebeg Sudiro 2026 di Solo, Minggu (15/2/2026) adalah simbol akulturasi budaya Jawa-Tionghoa yang meriah.
Grebeg Sudiro 2026 di Solo, Minggu (15/2/2026) adalah simbol akulturasi budaya Jawa-Tionghoa yang meriah.

RADARSOLO.COM – Kawasan Pasar Gede hingga Kampung Sudiroprajan bertransformasi menjadi lautan manusia pada Minggu (15/2/2026).

Ribuan warga dan wisatawan memadati jantung Kota Solo untuk menyaksikan puncak Grebeg Sudiro 2026, sebuah festival tahunan yang merayakan harmonisasi budaya Jawa dan Tionghoa.

Acara ini dihadiri oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, serta Direktur Utama BKMA Kementerian Kebudayaan, Sjamsul Hadi.

Festival ini kembali membuktikan eksistensinya dengan masuk dalam daftar bergengsi Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.

Simbol Nyata Bhinneka Tunggal Ika

Dalam sambutannya, Astrid Widayani menegaskan bahwa Grebeg Sudiro adalah representasi wajah asli Solo yang inklusif.

“Grebeg Sudiro adalah simbol sejati akulturasi. Di sini kue keranjang bersanding dengan gunungan, barongsai menari bersama reog. Inilah wajah Solo yang nyata,” ujar Astrid.

Iring-iringan Kirab yang Magis

Kirab budaya berlangsung sangat meriah dengan berbagai suguhan visual yang memukau:

Tradisi Tionghoa: Atraksi religius 12 Shio dari Klenteng Tien Kok Sie dan liukan dinamis Liong Macan Putih.

Tradisi Jawa: Penampilan sendratari dan cucuk lampah yang dipadukan dengan irama gamelan yang gagah.

Akulturasi: Pertemuan aroma dupa klenteng dengan riuhnya tetabuhan genderang barongsai menciptakan atmosfer yang magis.

Momen Rebutan 5.000 Kue Keranjang

Puncak acara yang paling dinanti adalah rebutan gunungan hasil bumi dan 5.000 kue keranjang.

Ketua Panitia, Arsatya Putra Utama, menyebutkan kue tersebut dihadirkan dalam bentuk jodang lanang dan wadon.

Meski sempat diguyur hujan, semangat warga tidak surut. Tradisi rebutan ini dimaknai masyarakat bukan sekadar mencari makanan, melainkan simbol mencari keberkahan dan kebersamaan antarwarga tanpa memandang etnis maupun agama.

Penutup Meriah Bersama Lavora Band

Rangkaian acara yang dimulai dari Umbul Mantram, Wisata Perahu Hias di Kali Pepe, hingga Bazar UMKM, ditutup dengan pesta malam pergantian tahun pada Senin (16/2/2026).

Meskipun digelar tanpa kembang api, suasana tetap pecah saat Lavora Band asal Yogyakarta membawakan hits andalan seperti "Rasah Bali", mengajak seluruh pengunjung di halaman Balai Kota Solo berjoget bersama.

Grebeg Sudiro bukan cuma soal tontonan, tapi soal tuntunan bagaimana cara hidup berdampingan.

Perayaan Imlek di Solo, kita nggak cuma makan kue keranjang, namun juga merayakan keberagaman. (dam)

Editor : Damianus Bram
#imlek #kue keranjang #akulturasi budaya #grebeg sudiro 2026 #solo #pasar gede #tionghoa