Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pakar Geografi Ingatkan Bahaya Tanah Gerak: Ancaman Senyap di Wilayah Pegunungan, Ini Mitigasi yang Harus Dilakukan!

Kabun Triyatno • Sabtu, 21 Februari 2026 | 15:59 WIB

Tanah gerak di Selogiri, Wonogiri. (Iwan Adi Luhung/Radar Solo)
Tanah gerak di Selogiri, Wonogiri. (Iwan Adi Luhung/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Fenomena tanah bergerak atau rayapan tanah (soil creep) menjadi ancaman senyap bagi masyarakat yang tinggal di kawasan lereng dan pegunungan vulkanik tua. Guru Besar Bidang Ilmu Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Kuswaji Dwi Priyono memperingatkan bahwa pergerakan tanah yang berlangsung perlahan sering kali tidak disadari hingga akhirnya menimbulkan kerusakan fatal.

Menurut Kuswaji, karakteristik tanah di Indonesia yang didominasi lempung mudah mengembang (expansive clay) sangat rentan mengalami retakan saat kemarau dan menjadi jenuh air saat penghujan.

Baca Juga: Tanah Gerak di Kerjo Karanganyar Ancam Satu Rumah, Enam Orang Terancam Mengungsi

“Tanah bergerak dalam bentuk rayapan ini berlangsung lambat namun konstan. Retakan kecil di lereng atau lahan pertanian adalah tanda awal. Jika retakan terisi air hujan, lapisan tanah menjadi jenuh dan pergerakan semakin cepat, merusak fondasi bangunan hingga infrastruktur,” jelasnya, Sabtu (21/2/2026).

Selain faktor geologis, Kuswaji menyoroti peran aktivitas manusia yang memperparah risiko bencana. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian atau permukiman di wilayah lereng menyebabkan daya serap air berkurang. Akibatnya, air hujan langsung menginfiltrasi lapisan bawah tanah dan melumasi lapisan lempung, yang bertindak sebagai bidang gelincir.

Baca Juga: Waspada..! BMKG Beri Warning Cuaca Ekstrem saat Mudik Lebaran 2026 di Wilayah Jawa Tengah

“Tingginya pertumbuhan penduduk memaksa pemanfaatan wilayah lereng yang seharusnya menjadi kawasan lindung vegetasi. Inilah yang memperbesar kerentanan bencana di negara tropis dengan curah hujan tinggi,” tambahnya.

Dalam hal penanggulangan, Kuswaji menekankan pentingnya pergeseran fokus dari penanganan darurat (saat bencana) menuju penguatan pencegahan (pra-bencana). Ia mengusulkan evaluasi tata ruang secara berkala dan edukasi masyarakat agar mampu mengenali tanda-tanda geofisika di lingkungan mereka.

Baca Juga: Cek Desil Bansos 2026 Lewat NIK KTP, Masuk Desil 1–4 Prioritas Penerima PKH-BPNT Cair Februari?

Ia pun membagikan tips sederhana bagi masyarakat di wilayah pegunungan. Pertama, rutin memeriksa adanya retakan tanah di sekitar rumah atau lahan. Kedua, segera tutup retakan tanah dengan tanah liat atau material padat agar air hujan tidak masuk ke zona bawah tanah. Ketiga, meningkatkan kewaspadaan lingkungan layaknya ronda keamanan malam.

"Kita perlu 'ronda kondisi alam'. Masyarakat harus mampu hidup berdampingan dengan risiko bencana melalui pengetahuan dan kewaspadaan yang sistematis," pungkasnya. (bun)

Editor : Kabun Triyatno
#daya serap air hujan #Geofisika #edukasi #Penanganan Darurat #pegunungan #air hujan #tanah gerak #longsor