RADARSOLO.COM - Perayaan Imlek 2026 yang jatuh bersamaan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-281 Kota Solo dan dihelat beririsan dengan momen Ramadan memberi suasana baru yang terasa begitu spesial.
Saat itulah harmonisasi sosial tidak hanya sekedar harapan namun dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep harmonisasi yang terpelihara dengan apik di Kota Solo meresap dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat.
Beragam momen yang mengusung masing-masing identitas kebudayaan dapat dihelat bersamaan.
Kota yang sudah berusia 281 ini pun membuktikan kemampuannya ketika semua itu berlangsung dengan aman, nyaman serta dapat diterima semua orang.
“Imlek kali ini bukan sekadar perayaan tahun baru saja, namun menjadi laboratorium sosial. Di mana perjumpaan budaya, ruang dialog, dan ruang penguatan persaudaraan keberagaman yang kita miliki,” ucap Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani belum lama ini.
Di Solo, semangat inklusivitas dan toleransi dalam kemasan Kota Harmoni bukan hanya semangat kosong, namun telah diakui banyak pihak.
Lewat Harmony Award 2025, Pemkot Solo membuktikan harmoni sosial dan moderasi beragama di tingkat kota menjadi daya tarik utama Kota Bengawan.
Gambaran nyata ini dapat dilihat dengan gampang lewat perayaan Imlek 2026 yang dirayakan bersamaan dengan HUT Kota Solo ke-281 serta beririsan dengan momentum Ramadan dan Prapaskah 2026.
“Ini momentum yang baik untuk menjaga nilai harmonisasi dan toleransi yang ada di Solo agar kita bisa hidup dengan suasana yang utuh dan saling menghargai,” hemat Astrid.
Di Kota Bengawan, bentuk keharmonisan antara etnis Jawa dan Tionghoa tampak jelas lewat Grebeg Sudiro yang dihelat sejak 2007 silam.
Event tahunan asli Solo yang kini menjadi salah satu event unggulan di Karisma Event Nusantara jadi bukti kolaborasi bersama antara masyarakat Jawa dan Tionghoa yang ada di sekitar kawasan Pasar Gede.
“Grebeg Sudiro itu dulu inisiatornya dari Klenteng Tien Kok Sie, demikian juga pemasangan lampion di jalanan seperti juga dari kami tahun 2005," ucap Ketua Yayasan Klenteng Tien Kok Sie, Sumantri Dana Waluya.
Setelah dipasang, ternyata banyak warga Kelurahan Sudiroprajan yang menginginkan untuk dipasang lebih banyak.
Dua tahun kemudian dilaksanakan Grebeg Sudiro yang pertama di 2007.
"Warga Kelurahan Sudiroprajan sebagai panitia, kami (dari Klenteng, Red) support dari belakang,” kata Sumantri.
Kolaborasi antara warga sekitar dengan etnis keturunan Tionghoa itu akhirnya membentuk sebuah wadah apresiasi budaya yang baru yang dikenal sebagai Grebeg Sudiro.
Pemilihan istilah Gregeg dipakai untuk lebih membumikan istilah arak-arakan. Sementara Sudiro diambil dari nama wilayah setempat. Yakni Kelurahan Sudiroprajan.
Dikatakan Sumantri, grebeg terinspirasi dari Grebeg Mauludan di Keraton Solo. Di mana grebeg di keraton juga identik dengan adanya gunungan yang diarak.
"Nah kalau gunungan milik etnis Tionghoa ini berupa kue keranjang. Jadi bisa dibilang Grebeg Sudiro produk kebudayaan yang menunjukkan keharmonisan antar warga di wilayah ini dan di seluruh Solo pada umumnya,” hemat Sumantri.
Yang cukup spesial terjadi karena Imlek 2026 jatuh bersamaan dengan HUT Kota Solo ke-281 yang juga bersamaan dengan momentum Ramadan 2026.
Maka, jangan heran jika semangat Imlek 2026 juga diwarnai dengan lampion bernuansa Ramadan dengan bentuk bulan sabit, ketupat, Masjid Cheng Ho, dan unta yang berdiri beriringan dengan beragam lampion gantung dan lampion shio khas Tiongkok.
Perpaduan budaya Jawa-Tiongkok itu juga terlihat hiburan yang disajikan.
Keterlibatan berbagai seniman mulai dari pentas Liong dan Barongsai, ketoprak, tari tradisional seperti Buto Gedruk, Gajah Krumpyung, dan masih banyak lainnya menjadi simbol harmonisasi yang berjalan dengan apik.
Harmonisasi sosial dipraktikkan dengan baik lewat aksi berbagi takjil gratis yang dilakukan oleh panitia Imlek pada masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.
“Sebagai kota wisata Imlek yang ikut merawat kebhinekaan, kami terus berusaha menanamkan pentingnya toleransi di Kota Solo. Terbukti, perayaan Imlek dari tahun ke tahun kebhinekaan di Solo selalu bertambah di tingkat yang lebih baik,” hemat Sumartono Hadinoto, tokoh masyarakat Kota Solo sekaligus Ketua Panitia Imlek Bersama 2026.
Harmonisasi sosial lewat gerakan kebudayaan ini juga diapresiasi oleh tokoh masyarakat lainnya, seperti oleh Kiai Haji Muhammad Mashuri yang merupakan PCNU Kota Surakarta sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta.
Menurutnya, harmonisasi sosial yang terjalin di Kota Bengawan merupakan modal yang baik dalam menghadirkan keamanan dan kenyamanan di tengah masyarakat.
“Momentum Imlek, HUT Kota Solo, Ramadhman, bahkan Prapaskah (bagi umat Kristiani) ini mencitrakan bahwa Solo benar-benar harmonis. Jadi Harmoni Award yang diraih Pemkot Solo memang benar-benar karena kerukunan dan toleransi yang ada di Solo," tutur KH Mashuri.
Buktinya, lanjut dia, Imlek dan HUT Kota Solo bahkan Ramadan dan Prapaskah yang berbarengan bisa berjalan dengan baik.
"Ini membuktikan bahwa Solo telah bertransformasi menjadi kota yang memang benar-benar nyaman untuk ditinggali," imbuhnya.
Ya, keharmonisan di Kota Bengawan tergambar indah saat kue keranjang bersanding dengan tradisi gunungan.
Sementara kebhinekaan terukir jelas tatkala Barongsai-Liong menari bersama Reog dalam rangkaian kemeriahan Imlek 2026.
Pemkot Solo pun mengajak semua masyarakat untuk meresapi semangat Bhineka Tunggal Ika agar rasa aman dan nyaman dapat dirasakan setiap orang dalam rangka merawat keberagaman sebagai aset bangsa.
“Mari kita jaga tradisi akulturasi ini bukan hanya sebagai tontonan tetapi sebagai tuntunan hidup rukun berdampingan. Ayo kita wariskan semangat persatuan ini pada generasi muda agar api toleransi di Solo tidak pernah padam,” tutup Astrid.
Keramahan Kota Solo Bikin Banyak Orang Kesengsem
Memasuki usia ke-281 tahun Kota Solo semakin menunjukkan kedewasaan dalam berbagai hal.
Tak hanya keramahan wong Solo yang kini menjadi daya tarik, namun berbagai aspek lainya yang banyak membuat pendatang kesengsem untuk berlama-lama di Solo bahkan rela tinggal dan menetap menjadi warga kota ini.
Testimoni soal pulennya daya tarik Kota Bengawan itu dibuktikan langsung oleh mereka yang asing namun jatuh cinta dengan pesonanya.
Salah satunya, Ahmad Kurnia, perantau ari Labuhan Batu Selatan, Sumatera Utara.
"Saya sudah tinggal di Solo sejak 2016 waktu kuliah Prodi Pendidikan FKIP UNS. Saya banyak dengan kabar kalau Solo kota yang nyaman, itu jadi salah satu alasan saya menempuh pendidikan tinggi di Solo. Selain karena juga tertarik dengan universitas pilihan saya waktu itu,” ucap Ahmad.
Ahmad yang datang dari keluarga petani itu menyaksikan langsung keramahan Kota Bengawan mulai dari biaya pendidikan yang terjangkau, biaya hidup yang murah, hingga fasilitas publik yang mewadahi dan ramah untuk semua orang.
Dirinya hanya perlu mengeluarkan Rp 3,5 juta per tahun untuk biaya kos selama kuliah.
Tarif itu terbilang murah dengan fasilitas yang ia dapat selama indekos di lokasi tersebut.
Sementara urusan makan, saat kepepet pun Rp 10 ribu dapat memberikan rasa kenyang dengan menu sederhana nasi sayur, lauk, dan segelas teh hangat.
“Saya rasakan biaya hidup di Solo sangat terjangkau, kalau sekarang sekali makan Rp 15-18 ribu juga masih terjangkau lah," ucap dia.
Selain itu, kata dia, di Solo fasilitas kesehatan, transportasi, bahkan area publik yang bisa diakses gratis juga masih banyak.
Hal itu lah yang jadi alasan utamanya sehingga tidak balik ke kampung halaman setelah lulus kuliah.
"Saya malah memilih untuk bekerja di Solo,” kata Ahmad.
Kecintaan yang sama akan Kota Solo juga dirasakan oleh Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sekaligus Ketua Komisi IV DPRD Kota Solo, Sugeng Riyanto.
Pria kelahiran Cilacap, 27 Juli 1974 itu mengaku jatuh hati dengan Kota Solo saat melewati masa perkuliahan di Prodi Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa (kini Fakultas Ilmu Budaya) UNS tahun 1995 silam.
Di era-era pergerakan itulah Sugeng merasakan dinamika politik yang dimiliki kota kecil seluas 46,72 kilometer persegi tersebut.
Sehingga menjadi alasan kuat dirinya untuk tetap berada di Solo setelah mendapatkan gelar sarjana sastra kala itu.
“Saya menemukan Solo ini kota kecil tetapi dinamis dalam politiknya. Setelah lulus kuliah sepertinya saya ingin tinggal di Solo saja, akhirnya saya putuskan tetap berada di Solo sampai saat ini,” hemat dia.
Alasan lainnya untuk tetap berada di Solo tidak lain karena ragam kulinernya. Sugeng merasakan betapa mudahnya memenuhi kebutuhan hidup di kota ini sejak zaman kuliah dulu.
Sebagai mahasiswa, dirinya bisa dengan mudah menemukan penjaja makanan bahkan pada tengah malam atau dini hari sekalipun, yang tentunya dengan harga ramah di kantong mahasiswa
“Sulit untuk tidak mengakui kalau Solo itu menyediakan kenyamanan yang luar biasa dari segi kuliner. Sudah murah, ragamnya banyak, dan jam berapa pun pasti ada,” kata dia.
Kenangan akan Kota Solo, pengalaman pribadi, dan buah pemikiran politisi PKS ini dituangkan dalam sebuah buku yang berjudul Gandrung Solo di 2017 lalu.
Perjalanan dan pandangan pribadinya perekonomian, sosial, politik, dan beberapa puisi karya sendiri itu menjadi bukti nyata akan keterikatan Sugeng Riyanto pada Kota Solo.
“Gandrung Solo itu semacam bunga rampai pemikiran saya. Maknanya bisa diartikan sebagai tresno atau cinta pada Kota Solo. Tetapi juga bisa diartikan sebagai perjalanannya saya dari Desa Gandrung Manis di Cilacap (tempat kelahiran Sugeng Riyanto) hingga ke Kota Solo (tempatnya bertumbuh menjadi politisi handal, Red)," beber Sugeng.
"Solo hari ini dengan keberagaman sosial, budaya, tradisi, dan adat istiadat bisa menjadi modal apik untuk menyejahterakan semua elemen masyarakat yang ada di dalamnya,” imbuhnya.
Sebagai informasi, keramahan Kota Solo tercatat dalam beberapa kajian. Solo dinilai sebagai Kota Paling Nyaman di Indonesia dalam kajian Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia pada 2017 dengan Indeks Livability mencapai 66,9 persen dari 26 kota di 19 provinsi yang ikut dalam survei itu.
Capaian serupa juga dibuktikan pada beberapa tahun selanjutnya. Hingga yang terbaru di 2022 lalu Kota Solo kembali menempati peringkat pertama dalam survei serupa dengan nilai 77 persen dengan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya.
Menyikapi itu, Wali Kota Solo Respati Ardi berulang kali menegaskan bahwa visi-misi Pemkot Solo di era Respati-Astrid adalah untuk memastikan semua orang mendapatkan pelayanan terbaik dalam berbagai bidang.
Oleh sebab itu, Asta Cita Surakarta menjadi tema besar yang direalisasikan hingga 2030 mendatang.
“Perayaan Imlek, HUT Kota Solo ke-281, dan berbagai kegiatan lainnya itu menjadi simbol dan semangat baru untuk kita. Saya harap energi kebersaman dan optimisme ini dapat diwujudkan dalam membangun Kota Bengawan semakin maju dan berdaya agar kesejahteraan dapat dirasakan setiap orang yang ada di sini," ucap Respati Ardi.
Mengelola Heterogenitas dan Merawat Keajegan Jadi Kunci di Masa Depan
Pemerhati sosial Tundjung W. Sutirto berpandangan, mengelola heterogenitas dan merawat keajegan (keteraturan) menjadi kunci dalam menghadirkan rasa aman dan nyaman bagi setiap orang di Kota Solo.
Akademisi UNS ini menganggap posisi Kota Solo sebagai punjer atau poros kebudayaan Jawa dengan akar sejarah dan adat istiadat yang kuat itulah yang menjadikan kota ini ideal untuk terus berkembang. Tidak hanya dari segi budaya, namun juga akan nilai perjuangan, perdagangan, pendidikan, dan seterusnya.
Tantangannya, tinggal bagaimana pemerintah bisa merawat heterogenitas yang ada di dalamnya menjadi sebuah modal positif untuk perkembangan Solo di masa mendatang.
Sebab, heterogenitas yang dirawat dengan baik menjadi modal yang apik dalam integrasi sosial dan harmonisasi antar masyarakat yang ada di dalamnya.
“Multikulturalisme yang ada di Solo itu sudah terbentuk sejak Praja Kejawen, era Kolonial, dan hari ini. Walau ada riwayat gesekan yang tidak dapat ditoleransi, Solo terus berkembang dalam integrasi sosial," ujar Tundjung.
Oleh karena itu, papar dia, Pemkot Solo wajib menjaga keajegan yang ada di dalamnya agar dapat menghasilkan dampak baik lewat beragam program atau kegiatan yang dapat memberikan kemaslahatan bagi banyak orang. (ves/ria)
Editor : Syahaamah Fikria