Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Wajah Baru Museum Keraton Solo Pasca Revitalisasi, Tampil Lebih Segar Terbuka untuk Umum

Silvester Kurniawan • Rabu, 25 Februari 2026 | 11:30 WIB

Museum Keraton Solo lebih tertata rapi dan nyaman dikunjungi. (M Ihsan/Radar Solo)
Museum Keraton Solo lebih tertata rapi dan nyaman dikunjungi. (M Ihsan/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Setelah tiga bulan berdiri sunyi layaknya bangunan kosong yang memendam lara, Museum Keraton Kasunanan Surakarta akhirnya kembali bernapas. Ketukan langkah kaki wisatawan dan sapaan hangat para abdi dalem kini menggantikan keheningan panjang yang sempat menyelimuti sisi timur keraton sejak mangkatnya Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi.

Bagi para abdi dalem pariwisata, pembukaan kembali museum pada Rabu (16/2) lalu bukan sekadar soal urusan pekerjaan, melainkan kembalinya ruh kehidupan mereka.

Di antara deretan koleksi bersejarah, berdiri sosok Mas Ngabehi Sukardi Prasetyo, 61. Dengan busana batik lengkap dengan samir dan blangkon, ia menyapa setiap pelancong dengan tutur kata yang sangat santun. "Sugeng rawuh," ucapnya sambil melempar senyum yang tulus, Selasa kemarin (24/2).

Sukardi bukanlah pemandu wisata biasa. Ia adalah "buku sejarah" berjalan yang telah mengabdi selama 30 tahun, sejak era Sinuhun PB XII. Baginya, setiap sudut museum adalah bagian dari hidupnya.

"Belajarnya dari pengalaman. Dulu ada buku panduan, tapi praktiknya saya melihat bagaimana senior melayani. Sekarang semuanya sudah mengakar di ingatan," tutur warga Kadipiro, Kecamatan Banjarsari ini.

Hanya dengan biaya masuk mulai dari Rp 25 ribu untuk pelajar hingga Rp 60 ribu bagi wisatawan mancanegara, pengunjung sudah bisa menikmati jasa keramahan pemandu seperti Sukardi yang siap membawa mereka melintasi lorong waktu—mulai dari silsilah raja-raja hingga ruangan sakral yang menyimpan Dandang Kyai Dudo peninggalan Joko Tarub.

Mengabdikan diri di keraton diakui para abdi dalem bukan soal mengejar gaji yang besar. Meskipun honor yang diterima di bawah UMK, ada rasa bangga dan keberkahan yang tak terukur dengan angka. Namun, penutupan museum selama tiga bulan terakhir tetap saja menghimpit ekonomi mereka.

"Kalau keraton tutup, ekonomi jadi sulit. Waktu Covid-19 dulu atau penutupan kemarin, saya bantu istri jualan apa adanya di rumah demi anak istri. Sekarang senang sekali bisa buka lagi, semoga makin ramai," harap Sukardi.

Semangat serupa terpancar dari Mas Ngabehi Prajasawito, 61. Sejak 1988, pria asal Sragen ini setia menempuh perjalanan jauh setiap hari demi menjaga warisan leluhur. Baginya, museum harus tetap menjadi ruang publik.

"Selain untuk pengetahuan masyarakat, aktivitas museum ini adalah penyambung hidup bagi abdi dalem seperti kami," ungkapnya.

Kini, museum tampil lebih segar usai mendapatkan sentuhan revitalisasi dari Kementerian Kebudayaan. Ruang pamer yang lebih tertata dan akses ke perpustakaan keraton yang mulai dibuka menjadi daya tarik tambahan.

Heri Ardianto, seorang pengusaha kayu asal Klaten yang baru pertama kali berkunjung, mengaku takjub. "Saya lihat banyak peninggalan kayu jati di sini. Sangat menarik secara historis dan teknis, bagaimana material ini bisa bertahan sedemikian lama," ucapnya saat berkeliling bersama keluarga.

Pembukaan kembali museum ini sekaligus menjadi sinyal kesiapan Keraton Kasunanan menyambut lonjakan wisatawan pada libur Lebaran mendatang.

"Suasana baru ini kami harapkan menjadi magnet bagi pelancong. Kami juga membuka akses perpustakaan bagi pelajar atau peneliti yang ingin menggali lebih dalam soal sejarah keraton," jelas KPH Eddy Wirabhumi, Sentana Dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

Di bawah langit Solo yang cerah siang itu, museum tak lagi sekadar penyimpan benda mati. Di sana, ada asa para abdi dalem yang terus menyala, menjaga marwah budaya sekaligus menjaga api di dapur mereka agar tetap berasap. (ves/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Raja-Raja #pemandu #Keraton Solo #museum #abdi dalem #sejarah #keraton kasunanan surakarta