RADARSOLO.COM – Merespons tingginya intensitas hujan yang memicu banjir di sejumlah wilayah Solo Raya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Solo menetapkan status siaga bencana hingga akhir Mei 2026. Langkah antisipatif ini diambil guna memastikan seluruh elemen kebencanaan, mulai dari personel hingga sarana prasarana, dalam posisi siap tempur menghadapi potensi luapan Sungai Bengawan Solo.
Kepala BPBD Kota Solo Ari Dwi Daryatmo menegaskan bahwa seluruh jajaran petugas dan relawan di tingkat kelurahan telah diperintahkan untuk bersiaga penuh. Fokus utama saat ini adalah memantau pergerakan debit air dan memastikan logistik dalam kondisi aman untuk diterjunkan sewaktu-waktu.
Baca Juga: Manipulasi Dokumen Ekspor, 90 Ton Kratom Ilegal Berkedok Kopi Dibongkar di Tanjung Emas Semarang
“Prediksi cuaca menunjukkan intensitas hujan tinggi masih akan berlangsung hingga Mei. Kami telah menggelar rapat koordinasi lintas sektor dengan TNI, Polri, hingga relawan untuk memastikan sinergi penanganan tetap solid,” ujar Ari, Rabu (25/2/2026).
BPBD kini mempererat koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) dan DPUPR untuk memantau pengaturan pintu air secara real-time. Mitigasi ini dinilai krusial, mengingat letak geografis Solo yang kerap menerima limpahan air dari wilayah hulu seperti Wonogiri, Klaten, dan Boyolali.
Baca Juga: Sawit Boyolali Digulung Angin Kencang selama 1,5 Jam, Teras Rumah Joglo Hancur Tertimpa Pohon
Selain potensi banjir, BPBD juga menggandeng dinas lingkungan hidup (DLH) dan dinas pemadam kebakaran untuk mengantisipasi bencana penyerta seperti pohon tumbang. “Kami terus meneruskan informasi perkembangan cuaca dari BMKG hingga ke tingkat wilayah agar masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk bersiap,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menekankan bahwa meskipun dampak bencana pada periode 2025 hingga awal 2026 belum masuk kategori ekstrem, mitigasi tidak boleh kendor. Ia mendorong penguatan kelembagaan melalui program Kelurahan Tangguh Bencana (Kertana).
Saat ini, dari total 54 kelurahan di Solo, baru 34 kelurahan yang resmi menyandang status Kelurahan Tangguh Bencana. “Kami mendorong komitmen seluruh wilayah untuk segera membentuk Kertana di 20 kelurahan sisanya. Sinergi ini harus tangguh sejak dari akarnya, mulai dari proses mitigasi hingga pemulihan pasca-bencana,” tegas Astrid.
Dengan penerapan siaga bencana yang berkesinambungan, Pemerintah Kota Surakarta berharap risiko kerugian materiil maupun korban jiwa dapat diminimalisir di tengah cuaca ekstrem yang membayangi wilayah Solo Raya. (ves)
Editor : Kabun Triyatno