RADARSOLO.COM – Wali Kota Solo menginstruksikan dinas tenaga kerja (disnaker) untuk melakukan perombakan besar-besaran pada program Rumah Siap Kerja. Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas evaluasi program prioritas 2025 yang dinilai belum optimal dalam menyerap tenaga kerja lokal.
Berdasarkan data evaluasi, program tersebut menghadapi kendala serius terkait tingkat konsistensi peserta dan ketidakcocokan (mismatch) antara keahlian yang diajarkan dengan kebutuhan industri. Wali Kota menekankan bahwa transformasi sistem rekrutmen menjadi harga mati agar program ini tidak sekadar menjadi seremonial pelatihan, tetapi benar-benar menjadi jembatan bagi warga Solo menuju dunia kerja.
Baca Juga: Waspada Luapan Bengawan Solo, BPBD Tetapkan Status Siaga Banjir hingga Akhir Mei
“Kami menemukan kendala non-teknis, seperti peserta yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Ke depan, rekrutmen akan diperketat dengan tes singkat di awal pendaftaran. Tujuannya untuk menyaring minat dan memastikan peserta konsisten hingga pelatihan usai,” tegas wali kota, Rabu (25/2/2026).
Wali kota juga meminta disnaker tidak lagi pasif dan mulai melakukan sosialisasi jemput bola hingga ke tingkat kelurahan. Strategi ini bertujuan untuk memetakan minat dan bakat warga secara akurat sebelum menetapkan jenis kompetensi yang akan diberikan pada pelatihan 2026.
Baca Juga: Manipulasi Dokumen Ekspor, 90 Ton Kratom Ilegal Berkedok Kopi Dibongkar di Tanjung Emas Semarang
Kepala Disnaker Kota Solo Pramutady Sukoco menyatakan kesiapannya untuk menindaklanjuti instruksi tersebut. Menurutnya, pendataan di tingkat kewilayahan akan menjadi dasar utama untuk menyesuaikan kurikulum pelatihan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini. "Harapannya, fasilitas yang kami berikan benar-benar efektif mengentaskan pengangguran dan kemiskinan di Kota Solo," ujar Pramutady.
Kritik tajam sebelumnya datang dari Komisi IV DPRD Kota Solo. Para legislator menyoroti rendahnya angka penyerapan lulusan pelatihan ke dunia kerja yang dianggap masih jauh dari harapan.
Ketua Komisi IV DPRD Kota Solo Sugeng Riyanto mengungkapkan bahwa dari sekian banyak peserta pelatihan, baru sekitar 30 persen yang berhasil mendapatkan pekerjaan. "Ada masalah kualifikasi yang belum sesuai dengan permintaan pasar. Kami meminta Pemerintah Kota segera membenahi kurikulum dan memperkuat kemitraan dengan sektor swasta agar lulusan pelatihan langsung terserap," kata Sugeng.
Dengan pembenahan sistem rekrutmen dan sinkronisasi data kebutuhan industri, Pemerintah Kota Surakarta optimis program Rumah Siap Kerja dapat menjadi motor penggerak ekonomi warga asli Solo pada tahun ini. (ves)
Editor : Kabun Triyatno