SOLO – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tetap berjalan selama Ramadan 2026 justru menuai gelombang protes dari masyarakat di wilayah Solo Raya. Perubahan format dari makanan siap saji menjadi "menu kering" untuk dibawa pulang memicu keluhan masif terkait kelayakan gizi, kesegaran bahan, hingga dugaan ketidaksesuaian standar harga per porsi.
Kanal Unit Layanan Aduan Surakarta (ULAS) dipadati laporan wali murid yang kecewa. Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Solo Respati Ardi, mengambil langkah tegas dengan melayangkan surat evaluasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kami bersurat ke BGN terkait evaluasi MBG di bulan Ramadan ini. Banyak aduan warga soal menu yang tidak tepat. Kami meminta BGN segera menindaklanjuti Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait agar segera memperbaiki kualitas makanan bagi anak-anak,” tegas Respati Ardi, Jumat (27/2/2026).
Laporan warga di kanal ULAS dan media sosial mengungkap fakta miris mengenai isi paket MBG selama puasa. Di SMP Negeri 20 Solo orang tua siswa melaporkan anaknya menerima menu berupa roti dengan selai yang sudah tidak layak konsumsi serta telur rebus yang tidak matang sempurna.
Keluhan serupa muncul dari wilayah Wonogiri dan Sragen. Masyarakat menilai menu yang terdiri dari snack kemasan murah, kacang sangrai yang belum matang, hingga buah-buahan mentah, sangat jauh dari standar gizi seimbang.
"Anak saya dapat telur rebus mentah yang akhirnya dibuang karena takut sakit perut. Apakah karena gratis, maka makanannya diberikan asal-asalan?" tulis salah satu warga di kanal aduan. (ves/bun)
Editor : Kabun Triyatno