RADARSOLO.COM – Wajah toleransi Kota Solo terpancar nyata di gang-gang Kampung Kemasan Asli, Kelurahan Kepatihan Kulon. Di bawah gapura bertuliskan “Marhaban Ya Ramadhan”, riuh rendah persiapan buka puasa tidak hanya menjadi milik umat Muslim, tetapi menjadi panggung kebersamaan bagi seluruh warga, termasuk mereka yang beragama Kristiani.
Keharmonisan ini terlihat saat Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani melakukan kunjungan "ngabuburit" pada Kamis (26/2) sore. Menariknya, kehadiran Astrid didampingi langsung oleh Pendeta Obaja Tanto Setiawan, pemuka agama setempat yang rutin mendukung aktivitas ekonomi warga selama bulan suci.
Baca Juga: Menu Kering MBG di Solo Panen Kritik: Wali Kota Respati Desak Badan Gizi Nasional Evaluasi SPPG
“Hari ini saya ditemani buka puasa oleh Pak Pendeta. Ini membuktikan bahwa predikat Solo sebagai Kota Toleransi bukan sekadar jargon, melainkan praktik hidup yang terwujud dalam kebersamaan yang majemuk,” ujar Astrid takjub.
Festival kuliner yang diberi nama Njupuk Wakul (Untuk Potensi Usaha Kuliner Warga Kepatihan Kulon) ini merupakan tahun kedua penyelenggaraannya. Keunikan festival ini terletak pada komposisi warga; sekitar 60 persen penduduk Kepatihan Kulon adalah Non-Muslim. Hal ini membuat mayoritas pedagang kuliner Ramadan di lokasi tersebut justru merupakan warga Kristiani yang semangat menjajakan hidangan berbuka.
Lurah Kepatihan Kulon, Hanang Setiawan, menyebutkan bahwa keunikan demografi ini justru menjadi motor penggerak kerukunan. “Toleransi di sini sudah terjalin sangat baik. Kegiatan ini menjadi motivasi bagi kami untuk menggelar acara serupa di momen lain, seperti Natal dan Tahun Baru, guna meningkatkan kesejahteraan seluruh warga,” jelas Hanang.
Selain aspek sosial, Astrid Widayani mengapresiasi kreativitas warga dalam memanfaatkan ruang terbuka di tengah permukiman padat dan bantaran Kali Pepe. Kawasan yang semula sekadar perlintasan kini disulap menjadi etalase UMKM yang estetik.
Baca Juga: Dari Dapur Sederhana, Nurani Bangkitkan Ekonomi Ibu-ibu Pacitan Bersama PNM Mekaar
Astrid pun berpesan agar pelaku UMKM di Kepatihan Kulon tidak berhenti pada kegiatan musiman. Ia mendorong mereka untuk memanfaatkan layanan di UMKM Center milik Pemkot Solo guna memperkuat branding, desain logo, hingga strategi pemasaran digital.
“Suasananya sangat inklusif. Saya berharap ke depan kawasan ini bisa sehebat sentra kuliner di Jayengan atau wilayah lainnya,” tambah Astrid sembari menyicipi beberapa jajanan unik hasil olahan warga.
Baca Juga: Parade Planet Hiasi Langit Solo Raya Sabtu Besok, Ada Fenomena Unik Konjungsi Bulan Dan Jupiter
Pendeta Obaja Tanto Setiawan, Gembala Sidang Gereja Keluarga Allah El Shaddai Solo, yang turut serta dalam momen buka bersama tersebut mengaku bangga bisa menjadi bagian dari ekosistem Kepatihan Kulon. Ia menegaskan bahwa pihak gereja berkomitmen untuk terus mendukung (nglarisi) dagangan warga sebagai wujud kepedulian sosial.
“Kesatuan dan kerukunan adalah modal dasar untuk kemajuan. Bazar Ramadan ini memberi ruang bagi UMKM untuk bertumbuh. Saya percaya kebaikan ini harus dilakukan secara terus-menerus,” ucap Pendeta Obaja.
Momentum di Kepatihan Kulon sore itu menjadi potret bahwa di Solo, perbedaan keyakinan justru menjadi bumbu yang memperkaya rasa persaudaraan dan kemajuan ekonomi di tingkat akar rumput. (ves)
Editor : Kabun Triyatno