RADARSOLO.COM, SOLO — Memasuki hari ke-10 Ramadan 2026, suasana di Kampung Wisata Batik Kauman, Solo, terpantau belum seramai tahun-tahun sebelumnya.
Penurunan jumlah kunjungan bahkan mencapai sekitar 50 persen dibandingkan Ramadan tahun lalu.
Pemprakarsa Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Solo, Gunawan Setiawan, mengatakan kawasan Kauman sejatinya memiliki potensi besar sebagai destinasi ngabuburit.
Letaknya yang strategis di pusat kota, dekat Masjid Agung, Alun-alun, dan Pasar Klewer, membuat kawasan ini ideal untuk aktivitas Ramadan.
“Konsepnya memang kita arahkan sebagai destinasi ngabuburit. Potensinya besar, apalagi lokasinya di tengah kota. Tapi Ramadan tahun ini kondisinya masih cukup sepi,” ujarnya.
Menurutnya, bahkan sebelum Ramadan, penurunan kunjungan sudah terasa signifikan hingga 90–95 persen dibanding bulan sebelumnya.
Sementara dibandingkan Ramadan 2025, jumlah pengunjung turun sekitar 50 persen.
“Tahun 2024 masih banyak yang datang, swafoto, belanja batik, bahkan pagi dan siang hari juga ramai. Sekarang lalu lalang warga saja sangat berkurang,” katanya.
Faktor Ekonomi dan Minim Event
“Sekarang orang lebih fokus pada kebutuhan pokok. Untuk jalan-jalan mungkin ditahan dulu. Itu sangat terasa dampaknya bagi UMKM dan kawasan wisata seperti kami,” jelasnya.
Selain itu, pada Ramadan tahun ini belum terlihat adanya event besar atau dukungan kegiatan seperti tahun-tahun sebelumnya. Paguyuban dan warga pun memilih melakukan efisiensi kegiatan.
“Kami tetap menata lingkungan, tetap menyambut tamu yang datang. Tapi memang belum ada event besar seperti dulu. Biasanya ada support kegiatan Ramadan, tahun ini belum terlihat,” ungkapnya.
Ia berharap ada perhatian dan terobosan dari pemerintah, baik kota maupun pusat, untuk menggerakkan kembali sektor wisata kampung dan UMKM.
“Harapannya ada kebijakan atau dukungan yang bisa membantu kawasan wisata seperti Kauman tetap eksis. Karena kami ini bagian dari penggerak ekonomi masyarakat,” tambahnya.
Optimistis Menjelang Akhir Ramadan
Meski kondisi 10 hari pertama Ramadan masih lesu, tetap optimistis akan ada peningkatan menjelang akhir bulan suci.
“Biasanya 10 hari terakhir mulai ada pergerakan. Apalagi mendekati Lebaran, masyarakat mulai keluar untuk belanja dan jalan-jalan. Kami berharap ada peningkatan di 10 hari kedua dan ketiga ini,” katanya.
Ia juga menilai momentum hari libur atau tanggal merah selama Ramadan dan menjelang Lebaran bisa menjadi salah satu faktor penggerak kunjungan.
“Kalau ada libur, biasanya pergerakan wisata lebih terasa. Itu pengalaman kami selama ini,” tuturnya.
Di tengah tantangan yang ada, Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman tetap berupaya menjaga optimisme dan semangat warga.
“Walaupun sepi, kami tetap berpikir positif. Rezeki insyaallah tetap ada dan mengalir. Yang penting kami terus berbenah dan siap menyambut tamu kapan pun datang,” pungkasnya. (san)