Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Macan Pertama Diobservasi, Macan Kedua Masih Diburu: BKSDA Sebar 40 Kamera Jebakternak di Hutan Gunung Lawu

Antonius Christian • Rabu, 4 Maret 2026 | 16:55 WIB

Salah satu macan telah diamankan di Jatiyoso dan dibawa ke Solo Safari. (Dok BKSDA)
Salah satu macan telah diamankan di Jatiyoso dan dibawa ke Solo Safari. (Dok BKSDA)

RADARSOLO.COM – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah memastikan macan tutul yang dievakuasi dari pemukiman warga di Dusun Sendang, Desa Sepanjang, Tawangmangu, kini memasuki tahap observasi. Satwa dilindungi tersebut untuk sementara waktu dititipkan di Solo Safari guna memantau kondisi kesehatan dan perilakunya pasca-konflik dengan manusia.

Kepala Seksi (Kasi) Konservasi Wilayah I Jawa Tengah BKSDA Sudadi menjelaskan,  pihaknya masih memerlukan waktu untuk melakukan kajian mendalam sebelum menentukan langkah konservasi berikutnya. Hal ini penting untuk memutuskan apakah satwa tersebut layak dilepasliarkan kembali ke habitatnya atau memerlukan penanganan lain.

Baca Juga: Fakta-Fakta Macan Tutul Jawa yang Dievakuasi dari Permukiman Warga di Tawangmangu

“Satwa sudah dievakuasi dan saat ini berada di Solo Safari. Mengenai berapa lama proses observasi berlangsung, kami belum bisa memastikan karena bergantung pada hasil kajian teknis dan kondisi kesehatan satwa di lapangan,” ujar Sudadi, Rabu (4/3/2026).

Meskipun satu ekor telah berhasil diamankan, BKSDA tidak lantas mengendorkan pengawasan di kawasan lereng Gunung Lawu. Berdasarkan identifikasi jejak kaki di lokasi kejadian, masih terdapat dugaan kuat adanya satu individu macan tutul lain yang berkeliaran di sekitar pemukiman warga.

Baca Juga: Teror Macan Tutul di Karanganyar Meluas: Setelah di Jatiyoso, Ternak Warga Tawangmangu Dimangsa

Sebagai langkah antisipasi, BKSDA bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, Sintas Indonesia, Perhutani, dan Tahura telah memasang sedikitnya 40 titik kamera jebak (camera trap). Pemasangan ini tersebar di area kemunculan awal hingga masuk ke dalam kawasan hutan lindung.

“Kami sudah memasang kamera jebak di 40 titik strategis. Fokus utama kami saat ini adalah memantau pergerakan satwa melalui hasil tangkapan kamera tersebut. Langkah lanjutan akan sangat bergantung pada data lapangan yang kami peroleh,” terang Sudadi.

Baca Juga: Buntut Serangan Macan Tutul di Jatiyoso, Perhutani Pasang Kamera Trap di Kawasan Perbatasan Hutan

Sudadi mengimbau masyarakat di lereng Gunung Lawu untuk tetap meningkatkan kewaspadaan, namun tetap tenang dan tidak bertindak anarkis. Ia menyarankan langkah preventif sederhana bagi para pemilik ternak untuk meminimalisir potensi ancaman predator liar.

“Masyarakat diminta tetap hati-hati. Kami menyarankan agar kandang ternak diperkuat konstruksinya dan area sekitar rumah diberi penerangan yang cukup. Satwa liar biasanya menghindari area yang terang dan tertutup rapat,” pungkasnya.

Hingga saat ini, tim gabungan terus bersiaga melakukan pemantauan rutin guna memastikan keamanan warga sekaligus melindungi kelestarian satwa liar di kawasan Gunung Lawu. (atn/bun)

Editor : Kabun Triyatno
#gunung lawu #ternak #bksda #Satwa Liar #satwa dilindungi #macan tutul #kamera