RADARSOLO.COM – Pemerintah Republik Indonesia resmi menetapkan status siaga bagi seluruh kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil guna memantau serta menjamin keselamatan ribuan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di tengah berkecamuknya konflik geopolitik dalam beberapa waktu terakhir.
Baca Juga: Kisah WNI di Kota Qom Iran Beberkan Detik-Detik Serangan Rudal ke Teheran
Wakil Menteri Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Dzulfikar Ahmad Tawalla menegaskan bahwa perlindungan PMI menjadi prioritas utama seiring meningkatnya eskalasi di wilayah tersebut. Pihaknya telah memerintahkan penyebaran nomor hotline darurat di tiap KBRI agar warga negara Indonesia (WNI) dapat meminta bantuan sewaktu-waktu.
“Kami pantau terus kondisi di Timur Tengah. Kemarin kami sudah menyebar hotline masing-masing KBRI untuk merespons keadaan mendesak,” ujar Dzulfikar usai mengunjungi kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di Solo, Jumat (6/3/2026).
Kementerian P2MI saat ini tengah melakukan pendataan intensif terhadap PMI yang berada di Iran dan negara-negara terdampak lainnya. Berdasarkan laporan terbaru, sebanyak 100 orang pekerja migran telah berhasil diungsikan ke lokasi yang lebih aman demi menghindari zona konflik.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Bagaimana Nasib Jamaah Umrah asal Sragen di Arab Saudi?
“Kami berkoordinasi 24 jam dengan Kementerian Luar Negeri sebagai penanggung jawab utama jika eskalasi terus meningkat. Kami juga menjalin komunikasi erat dengan komunitas dan aktivis pekerja migran di sana untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal,” tegas Dzulfikar.
Di saat yang bersamaan, Presiden ke-7 RI, Jokowi, memberikan pandangannya terkait gejolak di Timur Tengah. Jokowi mendorong pemerintah untuk mengedepankan upaya perdamaian melalui dialog global, salah satunya lewat forum Board of Peace (BoP). (ves)
Editor : Kabun Triyatno