RADARSOLO.COM – Kedai kopi Kopi Titilaras mendadak menjadi sorotan publik setelah unggahan bertuliskan “Tidak ada Americano di sini” viral di media sosial.
Banyak warganet menilai langkah tersebut sebagai bentuk penghapusan menu Americano terkait konflik geopolitik yang sedang ramai dibicarakan.
Namun pemilik kedai, Arkha Tri Maryanto, menegaskan bahwa persepsi tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Dia menjelaskan bahwa sejak awal berdiri pada 2022, kedainya memang tidak pernah menyediakan menu Americano.
“Sebetulnya dari dulu, sejak 2022, kita tidak pernah ada menu Americano. Menurut saya, dengan alat yang saya punya untuk mendekati standarisasi Americano yang diinginkan orang-orang tidak memenuhi,” ujar Arkha saat ditemui Jawa Pos Radar Solo.
Sebagai gantinya, kedai tersebut menghadirkan menu kopi hitam dingin bernama Black Ice. Nama menu itu terinspirasi dari judul lagu milik band rock legendaris AC/DC.
Arkha mengatakan, inspirasi penamaan menu dari judul lagu sebenarnya cukup lazim di dunia kedai kopi. Beberapa barista atau pemilik kafe kerap mengambil referensi dari band favorit mereka untuk memberi identitas unik pada menu minuman.
Menurutnya, ide menghadirkan Black Ice juga berangkat dari fenomena meningkatnya permintaan kopi hitam beberapa tahun lalu. Kala itu, Americano menjadi pilihan yang paling mudah dikenal banyak orang.
Padahal, kata dia, kopi hitam memiliki banyak variasi metode penyajian. Karena tidak menyediakan Americano, ia kemudian mencoba menghadirkan alternatif yang tetap dapat diterima penikmat kopi.
Eksplorasi tersebut membuat Arkha mencoba menelusuri kembali karakter rasa Americano. Dari berbagai percobaan, ia menemukan bahwa karakter serupa bisa dihasilkan melalui metode tubruk.
“Setelah saya ulik, ternyata cita rasa Americano itu bisa dihasilkan dengan metode lain dan mengerucut pada metode tubruk. Hasilnya ternyata cukup mirip,” jelasnya.
Dari situlah muncul gagasan untuk mengenalkan es kopi hitam dengan metode tubruk kepada pelanggan. Arkha menilai metode tersebut lebih dekat dengan tradisi minum kopi di Indonesia.
Unggahan bertuliskan “Tidak ada Americano di sini” sebenarnya sudah dipasang sejak Februari lalu. Namun tulisan tersebut baru ramai diperbincangkan setelah diunggah kembali pada 1 Maret dan viral di media sosial.
Arkha mengaku cukup terkejut melihat respons yang berkembang. Banyak orang mengaitkan tulisan itu dengan konflik antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel yang tengah memanas.
Ia menjelaskan, tulisan tersebut juga disertai kalimat “From The River To The Sea” sebagai bentuk dukungan kemanusiaan terhadap Palestina.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa langkah tersebut bukanlah aksi boikot terhadap pihak tertentu.
“Kalau disebut sebagai protes mungkin bisa saja, tapi saya tidak serta-merta menyebutnya boikot karena terlalu ekstrem. Ini lebih ke sikap pribadi,” ujarnya.
Setelah viral, Arkha mengaku merasakan berbagai respons. Di satu sisi ia bangga karena gerakan kecil berupa tulisan sederhana bisa mendapat perhatian luas. Namun di sisi lain ia juga menyayangkan sebagian komentar yang justru dipenuhi nada kebencian.
Menariknya, beberapa pemilik kedai kopi lain bahkan menghubunginya untuk meminta izin mengikuti langkah serupa. Arkha pun mempersilakan selama langkah tersebut dianggap membawa kebaikan bagi lingkungan mereka. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy