RADARSOLO.COM – Meski gerbang depan tampak tenang, aktivitas di balik tembok Keraton Kasunanan Solo Hadiningrat kian intensif. Saat ini, dua poros utama di lingkungan keraton tengah menjalankan peran masing-masing. KGPA Tedjowulan berfokus pada pembenahan administrasi negara, sementara pihak PB XIV Purbaya gencar melakukan kaderisasi budaya melalui jalur pendidikan.
KGPA Tedjowulan, yang ditunjuk oleh Kementerian Kebudayaan sebagai penanggung jawab penataan, telah mengaktifkan Sekretariat atau Kantor Panembahan Agung di kawasan Kamandungan. Langkah ini menjadi tonggak awal dimulainya audit internal besar-besaran terhadap aset keraton.
Juru Bicara KGPA Tedjowulan, Kanjeng Pakunagoro menegaskan bahwa struktur kepengurusan saat ini tengah sibuk melakukan inventarisasi kekayaan budaya, baik yang bersifat fisik maupun non-fisik.
“Kantor sudah aktif. Kami sedang melakukan penataan organisasi dan inventarisasi sesuai arahan Kementerian Kebudayaan. Langkah ini sinkron dengan upaya audit untuk melindungi dan mengembangkan Keraton Solo,” ujar Pakoenagoro, Minggu (8/3/2026).
Baca Juga: Disopiri Warga Ponogoro, Mobil Terjun ke Parit di Sidoharjo Wonogiri
Di sisi lain, poros PB XIV Purbaya memilih jalur pelestarian langsung ke masyarakat. Melalui Pamardi Busono Keraton Solo, digelar Workshop Pengantin Keraton yang diikuti oleh 150 peserta di Sasana Handrawina pada Sabtu (7/3).
Guna menjamin keberlanjutan pakem tradisi, PB XIV Purbaya memberikan beasiswa penuh kepada 10 peserta terbaik untuk mendalami ilmu tata busana dan tata rias pengantin Gagrak Solo.
Baca Juga: Makna Soko Guru hingga Umpak Tahan Gempa, Rahasia Canggihnya Bangunan Tradisional Jawa
Pangarsa Pamardi Busono, KRMT Pustokoningrat menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kaderisasi nyata. “Peserta terbaik akan dapat beasiswa sinau tata busana. Ini kesempatan langka bagi masyarakat umum untuk belajar langsung dari sumbernya di lingkungan keraton,” tuturnya.
GKR Rumbai Kusuma Dewayani, kakak PB XIV Purbaya menambahkan bahwa kehadiran langsung Sri Susuhunan PB XIV dalam acara tersebut merupakan bentuk dukungan penuh agar pakem budaya tetap hidup di tengah modernitas. "Kami ingin mencetak generasi penerus yang kompeten agar tradisi ini tidak luntur," tegasnya. (ves)
Editor : Kabun Triyatno