RADARSOLO.COM – Kekayaan potensi seni dan budaya di Kota Bengawan terus menjadi tumpuan utama pengembangan kota. Pemerintah Kota (Pemkot) Solo kini mendorong masyarakat untuk menjadikan kota ini sebagai "laboratorium hidup" bagi seni dan budaya Jawa agar tetap relevan dan eksis di tengah terjangan modernisasi.
Semangat regenerasi ini tampak nyata dalam pagelaran wayang kulit bertajuk lakon Pandawa Gembleng yang diinisiasi oleh Komunitas Darmasuta (Dalang Remaja Solo) di Pendopo Kelurahan Kadipiro, Sabtu (7/3) malam.
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani yang hadir langsung dalam acara tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap keterlibatan anak muda dalam pelestarian tradisi. Lakon Pandawa Gembleng yang mengisahkan perjalanan Pandawa menempa diri di tengah ujian kehidupan dinilai sangat relevan dengan tantangan generasi masa kini.
“Di tengah derasnya arus budaya global, kehadiran dalang remaja menjadi bukti bahwa generasi muda di Solo memiliki kepedulian dan kecintaan mendalam terhadap warisan leluhur. Ini bukan sekadar pertunjukan, tapi komitmen meneruskan budaya yang adiluhung,” ujar sosok yang akrab disapa Mbak Wawali tersebut.
Baca Juga: Surga Bahari yang Tersembunyi: Intip 10 Pantai Hidden Gem Wonogiri untuk Rehat dari Hiruk Pikuk Kota
Pertunjukan malam itu mencuri perhatian karena mengusung konsep kolaborasi unik. Penampilan wayang kulit dipadukan secara selaras dengan aksi seniman wayang orang di atas panggung yang sama. Perpaduan dua dimensi seni pewayangan ini memberikan warna baru yang lebih segar bagi penonton milenial dan Gen Z.
Pemkot Solo menegaskan akan terus memfasilitasi ruang-ruang ekspresi kebudayaan seperti ini agar seni tradisi tidak hanya berhenti sebagai pajangan museum, melainkan menjadi identitas yang dinamis.
Baca Juga: Bukan Sekadar Rasa, Tapi Cerita: Menemukan Jiwa Wonogiri Melalui 12 Kuliner Otentiknya
“Kami ingin Solo tidak hanya dikenal sebagai kota yang kaya warisan sejarah, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi generasi muda untuk mengembangkan budaya secara kreatif dan inovatif,” pungkas Astrid. (ves)
Editor : Kabun Triyatno