RADARSOLO.COM– Lampu panggung perlahan menyala di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (6/3/2026) malam. Di balik tirai, beberapa anak saling berbisik kecil, sebagian menggenggam kostum mereka dengan gugup.
Begitu musik pembuka terdengar, langkah-langkah kecil itu mulai bergerak ke tengah panggung. Dari kursi penonton, tawa pun pecah bahkan sebelum cerita benar-benar dimulai.
Pementasan malam itu dibuka oleh anak-anak berusia sekitar 7 hingga 14 tahun yang memainkan lakon “Serigala Sakit Gigi” karya Irvan Mulyadie.
Cerita sederhana tentang seekor serigala yang kesakitan karena gigi berlubang itu justru terasa hidup lewat tingkah polos para pemain.
Ada yang terlalu bersemangat mengucapkan dialog, ada pula yang sesekali menoleh ke teman di sampingnya seolah mencari isyarat. Keluguan itu yang membuat penonton cepat larut dalam suasana.
Di sela-sela gelak tawa penonton, panggung teater seolah menjadi ruang baru bagi anak-anak tersebut untuk mengenal keberanian mereka sendiri.
Gerak tubuh yang luwes, mimik wajah spontan, hingga cara mereka menyampaikan dialog menjadi pengalaman yang mungkin tak mereka temukan di ruang kelas sekolah.
Suasana panggung berubah ketika pertunjukan kedua dimulai. Kali ini para aktor yang lebih dewasa tampil membawakan naskah “Awal dan Mira” karya Utuy Tatang Sontani.
Jika sebelumnya panggung dipenuhi kelucuan, kini dialog-dialog mengalir lebih tenang dengan pendekatan realis. Interaksi antartokoh terasa lebih dalam, menghadirkan dinamika emosi yang berbeda bagi penonton.
Di balik dua pementasan itu, ada proses belajar yang ingin dikenalkan kepada para peserta.
Kepala Penanggung Jawab Akar Study, Arif Fadloli, menjelaskan, kelas keaktoran yang mereka jalankan tidak hanya berorientasi pada pementasan, tetapi juga proses memahami seni peran secara utuh.
“Misi kita mengenalkan akting di sini tidak cuma sekadar langsung tampil dalam sebuah pertunjukan, tapi juga mengenalkan proses dengan adanya kurikulum,” ujarnya.
Menurutnya, belajar akting tidak selalu harus berujung pada profesi sebagai aktor. Justru pengalaman itu bisa memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam cara seseorang berkomunikasi.
Meski begitu, dia menegaskan bahwa perjalanan menjadi aktor tetap membutuhkan keseriusan dari masing-masing individu.
“Harapannya setelah satu sampai dua bulan belajar, peserta punya kemampuan public speaking yang lebih baik atau artikulasi komunikasinya lebih jelas. Kalau harapannya masuk ke sini lalu langsung menjadi aktor terkenal, itu kembali pada individunya karena untuk mencapai titik tersebut dibutuhkan kedisiplinan dan keinginan dari personalnya,” katanya.
Antusiasme peserta pun cukup terasa sepanjang proses latihan hingga pementasan. Bagi anak-anak seperti Tava, Kira, Nia, dan Veta, kelas keaktoran menjadi pengalaman baru yang menyenangkan di luar rutinitas sekolah.
Sementara bagi Estina, salah satu peserta dewasa, kelas akting justru membuka cara baru untuk memahami dirinya sendiri.
“Melalui peran saya belajar memahami emosi, psikologis, dan isu sosial dalam cerita. Dari situ saya jadi lebih mengenali diri sendiri,” tuturnya.
Di panggung kecil Teater Arena malam itu, akting tidak sekadar menjadi pertunjukan.
Dia berubah menjadi ruang belajar dan tempat anak-anak menemukan keberanian, orang dewasa memahami emosi, dan siapa pun yang datang pulang dengan cerita baru tentang bagaimana manusia bisa belajar melalui peran. (hj/nik)
Editor : Niko auglandy