Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Pernah Jaya pada Masanya, Inilah 7 Bus Kota Solo yang Kini Tinggal Cerita

Kabun Triyatno • Selasa, 10 Maret 2026 | 11:57 WIB

Bus tingkat DAMRI pernah berjaya pada masa 90 an.
Bus tingkat DAMRI pernah berjaya pada masa 90 an.

RADARSOLO.COM - Pernahkah Anda merindukan aroma oli terbakar yang beradu dengan hawa panas Jalan Slamet Riyadi di siang bolong? Atau rindu pada denting koin kondektur yang dipukulkan ke tiang besi sebagai sandi "kiri, Bang!"? Sebelum aspal Solo menjadi "hening" oleh mesin-mesin modern ber-AC, kota ini adalah panggung bagi konser raksasa bus-bus kota yang berwarna-warni.

Dulu, menanti bus bukan sekadar urusan mobilitas, melainkan sebuah ritual. Ada kebanggaan tersendiri saat berhasil menapaki tangga bus tingkat, atau adrenalin yang terpacu kala harus bergelantungan di pintu bus kuning yang sedang melesat demi mengejar setoran.

Namun, waktu adalah kondektur yang paling dingin; ia meniup peluit panjang, memaksa para raja jalanan ini masuk ke garasi terakhir mereka secara permanen.

Inilah deretan legenda transportasi Solo yang kini telah punah, namun jejak bannya tetap tercetak abadi dalam memori kolektif warga:

1. Bus Tumpuk DAMRI (Sang Mahkota Kota)

Inilah ikon paling megah dalam sejarah transportasi Solo. Beroperasi sejak 1983 hingga akhir 90-an, armada Leyland Atlantean milik Perum DAMRI ini adalah primadona jalur Palur–Kartasura.

Duduk di baris terdepan lantai dua adalah "kasta tertinggi" bagi pelajar dan wisatawan. Menatap pucuk pepohonan sepanjang jalan utama memberikan sensasi kemewahan yang tak ada bandingnya. Ia menyerah pada usia dan kelangkaan suku cadang, jauh sebelum bus wisata "Werkudara" lahir kembali untuk mengobati rindu.

2. Bus Surya Kencana (Si Kuning yang Tak Pernah Diam)

Jika Jakarta punya Metromini, Solo punya Surya Kencana. Bus medium berwarna kuning menyala ini adalah penyelamat waktu bagi buruh pabrik dan pelajar era 90-an.

Lincah membelah kemacetan dan sangat merakyat. Ritual berebut pintu di depan Sriwedari atau Nonongan adalah fragmen yang membentuk karakter keras namun tangguh anak muda Solo pada masanya.

3. Bus Adipura Raya (Penyeimbang Jalur Emas)

Hadir sebagai rival sekaligus mitra di jalur sibuk Kartasura–Palur. Adipura Raya adalah saksi bisu transformasi Solo dari kota tenang menjadi pusat ekonomi yang berdenyut kencang.

Dikenal dengan armada yang lebih kokoh. Suara getaran kaca jendela yang beradu dengan deru mesin saat oper gigi adalah "musik" pengantar harian bagi mahasiswa UMS hingga para pedagang pasar.

4. Bus Atmo (Sang Penguasa Setoran)

Berbicara soal kecepatan dan dominasi, Atmo adalah rajanya. Dengan livery biru tua yang khas, bus ini seolah tak pernah lelah melayani rute-rute vital di jantung kota. Nama "Atmo" kini menjadi legenda tentang kegigihan—dan terkadang kenekatan—sopir bus kota Solo dalam menaklukkan aspal.

5. Bus SKA Jaya (Napas Modernitas Terakhir)

Si biru yang energik ini muncul sebagai penantang di jalur tengah. SKA Jaya merepresentasikan upaya modernisasi bus kota sebelum sistem satu pintu (konsorsium) diterapkan. Unitnya yang terasa lebih "muda" sempat menjadi pilihan favorit kaum urban Solo di awal milenium.

6. Bus Nusa Bakti (Rivalitas Lintas Kota)

Pesaing berat Atmo yang sering terlibat aksi "kejar-kejaran" demi penumpang di jalur utama. Di sinilah para kondektur legendaris menunjukkan kebolehannya: bergelantungan dengan satu tangan sambil meneriakkan tujuan dengan nyaring di tengah kebisingan kota.

7. Bus Puji Syukur dan Bus Jaya (Penyambung Nadi Pinggiran)

Dua nama ini adalah pelengkap ekosistem yang tak kalah penting. Puji Syukur dengan armada mikro/mediumnya setia merayap hingga ke pelosok Solobaru dan Colomadu, sementara Bus Jaya melayani rute internal, menjangkau sudut-sudut kota yang tak tersentuh bus besar.

Kini, hiruk-pikuk warna-warni itu telah melebur dalam seragam merah-putih manajemen Batik Solo Trans (BST). Solo memang menjadi lebih tertib dan nyaman, namun bagi mereka yang pernah mencicipi bangku beludru yang mulai menipis di bus-bus tua tersebut, Solo akan selalu memiliki aroma nostalgia yang takkan bisa digantikan oleh mesin paling dingin sekalipun. (*)

 

Editor : Kabun Triyatno
#Transportasi #wisatawan #Lintas kota #legenda #solo #damri #kondektur #modernitas #bus