RADARSOLO.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait datangnya musim kemarau yang lebih awal pada April 2026. Fenomena El Nino diprediksi akan memicu kekeringan panjang dengan puncak cuaca panas ekstrem pada Agustus mendatang. Kondisi ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan, khususnya sektor peternakan nasional.
Menyikapi hal tersebut, pakar peternakan Universitas Airlangga drh. Bodhi Agustono menekankan pentingnya manajemen pakan darurat bagi peternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba.
Kekeringan yang meluas di wilayah Sumatra, Jawa, hingga Papua dipastikan akan membuat hijauan segar—sumber pakan utama ternak—menjadi langka. Bodhi mengingatkan bahwa ketergantungan pada rumput segar saat kemarau panjang adalah risiko besar bagi produktivitas daging dan susu.
“Peternak konvensional yang selama ini mengandalkan hijauan segar harus mulai beralih ke sistem semi intensif atau intensif. Kuncinya ada pada manajemen pakan melalui pengawetan sejak musim hujan masih berlangsung,” tegas Bodhi, Rabu (11/3/2026).
Untuk menjaga ketersediaan pakan selama berbulan-bulan, peternak disarankan menerapkan dua metode pengawetan hijauan:
-
Metode Silase (Pakan Fermentasi): Pengawetan hijauan segar (seperti rumput gajah atau jagung) melalui proses fermentasi tanpa udara (anaerob). Hasilnya adalah pakan dengan nutrisi stabil yang tahan disimpan dalam waktu sangat lama.
-
Metode Hay/Hein (Pakan Kering): Proses pengeringan hijauan hingga kadar air menjadi sangat rendah. Metode ini cocok untuk rumput lapangan atau leguminosa, sehingga pakan tidak mudah busuk meskipun disimpan berbulan-bulan.
Bodhi menilai tantangan terbesar saat ini adalah rendahnya adopsi teknologi pengawetan pakan di tingkat peternak kecil. Ia mendorong adanya kolaborasi aktif antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok ternak.
“Akademisi harus menjadi agen transfer teknologi melalui pelatihan pembuatan silase. Di sisi lain, pemerintah harus merespons peringatan BMKG dengan memastikan suplai air bersih, baik untuk kebutuhan ternak maupun masyarakat terdampak,” tambahnya.
Dengan persiapan manajemen pakan yang matang mulai sekarang, diharapkan sektor peternakan Indonesia tetap tangguh menghadapi terjangan kemarau ekstrem 2026 dan terhindar dari krisis pangan nasional.
Editor : Kabun Triyatno