Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Berebut Kacang hingga Cabai di Kori Kamandungan, Wisatawan Puji Keunikan Tradis Garebeg Pasa Keraton Solo

Antonius Christian • Minggu, 22 Maret 2026 | 13:42 WIB

Warga dan wisatawan berebut isi gunungan tradisi Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959 di Karaton Surakarta Hadiningrat, Minggu (22/3/2026).
Warga dan wisatawan berebut isi gunungan tradisi Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959 di Karaton Surakarta Hadiningrat, Minggu (22/3/2026).

RADARSOLO.COM-Tradisi Hajad Dalem Garebeg Pasa Tahun Dal 1959 di Karaton Surakarta Hadiningrat, Minggu (22/3), berlangsung meriah.

Ribuan warga bersama wisatawan dari berbagai daerah memadati kawasan keraton hingga Masjid Agung Surakarta untuk menyaksikan prosesi sakral sekaligus berburu berkah dari gunungan.

Sejak pagi hari, masyarakat sudah berjubel di sepanjang rute kirab demi mendapatkan posisi strategis.

Antusiasme tinggi ini membuat kawasan Baluwarti hingga halaman Masjid Agung dipenuhi lautan manusia.

Prosesi diawali dengan keluarnya rombongan abdi dalem dari dalam keraton. Para prajurit dengan busana adat khas berjalan tertib mengawal gunungan berisi hasil bumi.

Iringan gamelan dan suasana khidmat menambah nuansa sakral dalam tradisi yang menjadi bagian penting budaya Keraton Surakarta tersebut.

Gunungan yang diarak berisi berbagai hasil bumi seperti sayur-mayur, kacang panjang, cabai, jeruk, dan palawija lainnya.

Gunungan tersebut melambangkan kemakmuran serta wujud sedekah raja kepada rakyatnya.

Setibanya di halaman Masjid Agung, gunungan ini langsung didoakan oleh pemuka agama setempat, sebelum dikembalikan ke Keraton.

Didepan Kamandungan, Ribuan warga yang telah menunggu langsung merangsek mendekat saat gunungan mulai diletakkan.

Dalam hitungan menit, gunungan habis diperebutkan masyarakat.

Teriakan dan sorak sorai pecah saat warga saling berebut isi gunungan. Tak sedikit yang harus berdesakan demi mendapatkan bagian yang dipercaya membawa berkah.

Baca Juga: Viral Wisata Rumah Jokowi di Solo Juga Menjalar ke Tokoh-Tokoh Nasional: dari Silaturahmi, Diskusi hingga Minta Restu

“Alhamdulillah dapat kacang sama cabai. Walaupun harus dorong-dorongan, tapi senang. Ini sudah tradisi, katanya biar berkah,” ujar Suyatmi,,55, warga Pasar Kliwon.

Sementara itu, Rina Sundari,32, warga Laweyan, mengaku sempat khawatir dengan kepadatan massa.

“Tadi cukup padat dan sempat dorong-dorongan. Harapannya ke depan bisa diatur lebih rapi supaya lebih aman,” ujarnya.

Selain warga lokal, momen ini juga dimanfaatkan wisatawan yang datang di sela libur Lebaran. Mereka tampak antusias menyaksikan tradisi khas Keraton Surakarta tersebut dari dekat.

Dian Lestari,29, wisatawan asal Bandung, mengaku sengaja datang ke Solo untuk merasakan suasana Garebeg Pasa.

 “Awalnya niat mau ke Museum Kraton, Kebetulan libur Lebaran, jadi sekalian wisata budaya. Ini pertama kali lihat langsung, ternyata meriah dan penuh makna,” ujarnya.

Dia menilai tradisi ini memiliki daya tarik tersendiri. Menurutnya Walaupun ramai dan berebut, tapi di situ justru uniknya.

"Mungkin serunya ditutu, jadi Ini budaya yang harus terus dijaga," katanya. 

Tradisi Garebeg Pasa sendiri merupakan rangkaian perayaan menjelang Idul Fitri di lingkungan keraton. Selain sebagai simbol rasa syukur, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan antara keraton dan masyarakat. (atn)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#keraton surakarta #Garebeg pasa #Keraton Solo #keraton kasunanan surakarta