RADARSOLO.COM - SVARANUSA menghadirkan konsep unik dengan menghidupkan kembali tembang dolanan anak di pelataran Balai Kota Surakarta pada Senin sore, (23/3/2026).
Program ini bertujuan menyajikan pengalaman paduan suara yang lebih dekat dengan masyarakat luas di ruang publik, tidak lagi terbatas di lingkungan kampus atau gereja.
Program Manajer SVARANUSA, Nanang Musha menjelaskan, ini merupakan bagian dari memori kolektif lintas generasi.
Namun, saat ini tembang-tembang tersebut mulai jarang terdengar di tengah masyarakat.
“Kita ingin menghadirkan kembali pengalaman itu di ruang publik. Tembang dolanan sebenarnya menjadi memori kolektif, tapi sekarang cenderung jarang bahkan hampir tidak pernah kita dengarkan lagi,” ujarnya.
Menurutnya, tembang dolanan tidak hanya sekadar lagu, tetapi diiringi permainan yang melibatkan aktivitas fisik.
Hal ini dinilai relevan di tengah kondisi anak-anak masa kini yang cenderung minim aktivitas motorik.
"Selain itu, tembang dolanan juga mengandung nilai filosofi yang dapat menjadi sarana pembelajaran. Melalui kegiatan ini, diharapkan anak-anak yang belum pernah mengalami tradisi tersebut dapat mengenalnya, sementara generasi yang lebih tua dapat kembali mengingat dan membagikan pengalaman itu," jelas Nanang.
Kegiatan ini menghadirkan tiga tembang dolanan, yakni “Cublak-Cublak Suweng”, “Gundul-Gundul Pacul”, dan “Jamuran”.
Peserta tidak hanya diajak bernyanyi, tetapi juga bermain terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan bernyanyi bersama.
“Setelah bermain, mereka kami ajak menyanyi bersama. Ternyata banyak yang masih ingat, jadi bisa langsung mengikuti lagu yang dinyanyikan,” tambah Nanang.
Sementara itu, Direktur Program SVARANUSA Antonia Filicia Esa Rindi menambahkan, kekuatan utama dari kegiatan ini terletak pada interaksi alami yang tercipta di tengah masyarakat.
“Kami melihat orang-orang yang tidak saling mengenal bisa terhubung melalui lagu yang sama. Itu terjadi secara alami, bukan dibuat-buat. Di situlah letak kekuatannya,” ungkapnya.
Ke depan, ia berharap, kegiatan serupa dapat terus dihadirkan di berbagai ruang publik sebagai upaya menghidupkan kembali kekayaan budaya sekaligus mempererat kebersamaan masyarakat. (alf/dam)
Editor : Damianus Bram