RADARSOLO.COM - Revitalisasi Museum Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membawa dampak signifikan terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan, khususnya pascalibur Lebaran 2026.
Namun di tengah lonjakan tersebut, kualitas layanan informasi dan pengalaman edukatif pengunjung masih menjadi perhatian.
Staf Museum Keraton Kasunanan BRM Suryanto menjelaskan, revitalisasi difokuskan pada pembaruan tata ruang serta penambahan elemen teknologi untuk menunjang pengalaman wisata.
Salah satu yang ditonjolkan adalah penggunaan videotron dan pembaruan caption informasi yang kini tersedia dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris.
“Tujuan dari revitalisasi kemarin adalah pembaruan tata letak dan ruangannya dipercantik, dengan sentuhan-sentuhan teknologi dengan videotron dan caption yang sudah diperbarui menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris,” ujarnya, Rabu (25/3).
Menurutnya, dampak dari pembaruan tersebut langsung terasa dari sisi jumlah kunjungan. Dalam dua hari terakhir, terjadi peningkatan hingga 85 persen dibanding hari biasa.
"Selama dua hari ini belakangan, tingkatan kunjungan naik 85 persen dari hari biasa. Hari Senin kemarin menjadi puncak kunjungan karena kita sudah bisa menyentuh angka 1.500 penghujung dalam satu hari," ungkapnya.
Lonjakan ini didominasi wisatawan dari berbagai daerah, seperti Kudus, Probolinggo, Surabaya hingga Jakarta.
Kondisi tersebut menunjukkan Keraton Surakarta masih menjadi destinasi favorit, terutama saat momentum libur panjang.
Meski demikian, Suryanto mengakui bahwa kebutuhan utama pengunjung tidak hanya sebatas tampilan visual, tetapi juga pada kedalaman informasi sejarah.
“Pengunjung paling banyak mencari informasi tentang sejarah artefak, sejarah keraton, dan latar belakang bangunan keraton,” imbuhnya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, pihak keraton juga telah menyediakan layanan pemandu wisata dengan berbagai pilihan bahasa, seperti Inggris dan Jepang, guna mengakomodasi wisatawan mancanegara.
Di sisi lain, Candra, wisatawan asal Depok, Jawa Barat mengaku revitalisasi membawa perubahan positif, tetapi masih menyisakan sejumlah kekurangan.
“Terkait revitalisasi sendiri menurut saya sudah cukup bagus tapi memang kurang maksimal, ada beberapa spot yang masih sama seperti sebelumnya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti adanya ketidaksesuaian informasi yang disampaikan oleh pemandu wisata dengan referensi yang ia temukan dari sumber lain.
“Ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Seperti dari pemandunya, ada mis informasi menurut saya. Karena saya juga searching Google dan baca-baca terkait identitas Raja Pakubuwana dan sebagainya. Ada yang tidak sesuai dengan referensi saya,” ungkapnya.
Meski demikian, Candra menilai, revitalisasi ini cukup baik untuk para pelajar sebagai metode pembelajaran sejarah keraton.
"Tapi secara umum sudah menjadi sesuatu yang cukup baik. Karena paling tidak untuk pelajar yang belum terlalu mengenal Keraton bisa menjadi media pembelajaran sejarah," jelasnya.
Ia berharap, pemerintah pusat dapat memberikan bantuan untuk museum agar keraton bisa lebih menarik banyak wisatawan. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto