RADARSOLO.COM — Wajah lalu lintas Kota Solo pada Lebaran 2026 menunjukkan perubahan signifikan. Jika pada tahun-tahun sebelumnya kepadatan menyelimuti hampir seluruh ruas jalan kota, kini arus kendaraan justru terasa lebih longgar.
Data Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Solo mencatat, selama masa angkutan Lebaran mulai H-7 hingga H+5, jumlah kendaraan yang keluar-masuk kota mencapai 7.027.536 unit. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding periode yang sama pada 2025 yang menembus 7.039.427 kendaraan.
Baca Juga: Disambut Antusias, Program Balik Gratis Jateng Ringankan Beban Perantau Usai Lebaran
Kepala Dishub Kota Solo Taufiq Muhammad, menyebut tren penurunan ini terlihat dari akumulasi data, meski pergerakan harian sempat fluktuatif.
“Secara keseluruhan memang ada penurunan dibanding tahun lalu, walaupun secara harian naik-turun,” ujarnya, Jumat (27/3).
Perubahan ini bukan tanpa sebab. Salah satu faktor paling dominan adalah mulai berfungsinya akses Tol Solo–Yogyakarta melalui Gerbang Tol Purwomartani/Kalasan. Jalur ini memungkinkan kendaraan dari arah barat maupun sebaliknya tidak lagi harus melintasi pusat Kota Solo.
Baca Juga: Menikmati Sensasi Nyumik! Pedasnya Sambal Bawang Legendaris Warung Mak Cumik Eromoko Wonogiri
Dampaknya terasa langsung: ruas-ruas jalan utama hingga jalur penghubung antarwilayah kini lebih lengang dibanding Lebaran sebelumnya.
“Efeknya sangat terasa. Jalan dalam kota jadi lebih longgar, terutama jalur nasional dan penghubung antar kabupaten,” imbuhnya.
Baca Juga: Empat Kasus Campak Terdeteksi, Dinkes Klaten Terapkan Sistem Sweeping Vaksinasi ke Rumah Warga
Namun, kelonggaran ini bukan berarti kota sepenuhnya sepi. Kepadatan tetap terjadi, hanya bergeser ke titik-titik yang lebih spesifik—yakni kawasan wisata, pusat kuliner, dan lokasi event.
Sejumlah titik seperti Pasar Klewer, Pasar Gede, hingga Masjid Sheikh Zayed Solo dan Solo Safari menjadi magnet utama keramaian. Tak ketinggalan, deretan kafe dan pusat kuliner di sepanjang Jalan Slamet Riyadi juga dipadati pengunjung.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Solo Andri Wahyudi menjelaskan, pola pergerakan masyarakat selama Lebaran turut memengaruhi titik kepadatan.
Pada fase awal (H-7 hingga H-1), mobilitas didominasi aktivitas belanja kebutuhan sandang. Memasuki H-1 hingga hari H, arus bergeser ke pasar tradisional untuk memenuhi kebutuhan pangan.
“Setelah itu, mulai H+1 sampai H+3, masyarakat lebih banyak bergerak ke tempat wisata dan kuliner. Itu yang menyebabkan penumpukan di titik-titik tertentu,” jelasnya.
Meski tren keseluruhan menurun, Dishub memastikan kewaspadaan tetap dijaga. Sisa arus balik masih berpotensi terjadi hingga akhir pekan, terutama bagi pemudik yang menunda perjalanan pulang.
“Sebagian besar memang sudah kembali pada H+2 dan H+3. Tapi akhir pekan ini masih ada potensi arus susulan,” kata Andri.
Dengan pola baru ini, Lebaran di Solo tak lagi identik dengan kemacetan merata. Kini, keramaian justru terkonsentrasi—berpindah dari jalanan kota ke ruang-ruang rekreasi dan ekonomi, menandai perubahan dinamika mobilitas masyarakat di Kota Bengawan. (ves)
Editor : Kabun Triyatno