RADARSOLO.COM — Museum di Kota Bengawan tak lagi ingin sekadar menjadi ruang sunyi penyimpan masa lalu. Pemkot Solo bersiap mengubah wajah dua museum ikonik—Museum Radya Pustaka dan Museum Keris Nusantara—menjadi ruang hidup yang relevan dengan zaman.
Langkah ini diperkuat dengan turunnya bantuan senilai Rp5 miliar dari Kementerian Kebudayaan RI.
Baca Juga: Arus Kendaraan Mulai Berkurang, Kepadatan Solo Kini Terkonsentrasi di Wisata dan Kuliner
Dana tersebut akan digunakan untuk revitalisasi menyeluruh, mulai dari pembenahan fasilitas hingga penataan ulang tampilan museum agar lebih representatif dan ramah pengunjung.
Wali Kota Solo Respati Ardi menegaskan bahwa revitalisasi ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan bagian dari strategi besar memperkuat identitas Solo sebagai kota budaya.
“Museum harus hidup. Tidak hanya menjaga koleksi, tapi juga menarik orang datang, belajar, dan akhirnya menggerakkan ekonomi,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).
Baca Juga: Menikmati Sensasi Nyumik! Pedasnya Sambal Bawang Legendaris Warung Mak Cumik Eromoko Wonogiri
Gagasan ini menguat setelah kunjungan Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon sehari sebelumnya. Dalam tinjauannya, ia melihat potensi besar museum di Solo—namun juga tantangan klasik: bagaimana membuatnya tetap relevan di tengah perubahan zaman.
Bagi Fadli, museum tak cukup hanya menjadi tempat menyimpan benda bersejarah. Ia harus menjelma menjadi “etalase peradaban”—ruang yang mampu menceritakan perjalanan bangsa dengan cara yang lebih hidup dan mudah dipahami.
Baca Juga: Empat Kasus Campak Terdeteksi, Dinkes Klaten Terapkan Sistem Sweeping Vaksinasi ke Rumah Warga
“Museum harus menarik bagi generasi muda. Harus ada cara baru untuk menghadirkan sejarah agar tidak terasa jauh,” tegasnya.
Salah satu fokus utama revitalisasi adalah menjangkau generasi muda, terutama Gen Z, yang selama ini kerap berjarak dengan museum. Penataan ulang akan dilakukan, mulai dari desain ruang, alur kunjungan, hingga penyajian informasi yang lebih interaktif dan visual.
Tujuannya sederhana namun krusial: membangkitkan rasa ingin tahu.
Ketika museum mampu menghadirkan pengalaman, bukan sekadar pajangan, maka kunjungan bukan lagi kewajiban edukatif—melainkan pilihan rekreasi.
Revitalisasi ini juga menjadi bagian dari gerak besar antara pemerintah pusat dan daerah dalam menghidupkan kembali ekosistem budaya di Solo Raya.
Sebelumnya, Fadli Zon juga meninjau Keraton Kasunanan Surakarta sebagai bagian dari rencana penguatan kawasan heritage.
Dengan statusnya sebagai museum tertua di Indonesia, Radya Pustaka menyimpan jejak panjang sejarah literasi Nusantara. Sementara Museum Keris Nusantara menjadi rumah bagi ribuan bilah pusaka yang sarat filosofi.
Kini, keduanya didorong untuk naik kelas—bukan hanya sebagai tempat penyimpanan, tetapi destinasi wisata budaya berstandar internasional.
Di tengah arus modernisasi, langkah ini menjadi penegasan: bahwa masa depan kota budaya tidak hanya ditentukan oleh apa yang diwariskan, tetapi juga bagaimana warisan itu dihidupkan kembali. (ves)
Editor : Kabun Triyatno