RADARSOLO.COM - Di tengah hiruk pikuk Kota Solo yang kian modern, praktik membaca tarot masih bertahan.
Namun, wajahnya kini tak lagi identik dengan ramalan mistis.
Di tangan Tarot Indonesia Management, tarot bergeser jadi ruang konsultasi yang memadukan intuisi, pengalaman, dan pendekatan psikologis.
Perjalanan Tarot Indonesia tidak terjadi dalam semalam. Semua berawal dari sebuah komunitas bernama Paguyuban Tarot Solo (Partas), yang berdiri pada 2016.
“Dulu kami komunitas. Anggotanya ada beberapa orangt, tapi masing-masing masih jalan sendiri dengan personal branding,” ujar HRD sekaligus pengajar Tarot Indonesia Andreas Teguh Sujarwadi kepada Jawa Pos Radar Solo.
Saat itu, tarot lebih banyak hadir dalam event-event hiburan. Fungsinya untuk kebutuhan komersial seperti perayaan Imlek, tahun baru, hingga acara di hotel dan pusat perbelanjaan.
Anggotanya dulu menggunakan nama Animus Brand milik Fied Pratama Adi. Kemudian digunakan bersama untuk kebutuhan manajemen event offline.
“Kalau ada event di mal atau hotel, kami pakai nama Animus. Tapi sebenarnya, itu belum manajemen yang benar-benar terstruktur,” beber Teguh.
Upaya membangun manajemen sempat dilakukan pada 2018 oleh Teguh bersama dua rekan lainnya. Namun, langkah tersebut belum membuahkan hasil.
“Sudah dicoba, tapi tidak jalan. Akhirnya kembali lagi ke masing-masing,” kenangnya.
Momentum kebangkitan hadir setelah pandemi Covid-19. Di tengah perubahan besar yang terjadi, muncul kesadaran untuk membangun sistem yang lebih profesional dan berkelanjutan. Dari situ, Fied Pratama Adi bersama Teguh kemudian mendirikan Tarot Indonesia Management pada 2021.
Awalnya, hanya beranggotakan empat orang. Kemudian berkembang menjadi enam orang hingga saat ini. Beda dengan masa komunitas, seluruh anggota menjadikan tarot sebagai profesi utama.
“Kami full time di tarot. Tidak ada pekerjaan sampingan lainnya. Ini memang profesi kami,” tegasnya.
Bagi sebagian masyarakat, tarot masih identik dengan praktik meramal masa depan. Teguh tidak menampik persepsi tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa pemahaman itu hanya sebagian kecil dari esensi tarot.
“Kalau orang awam bilang tarot itu meramal, itu benar. Tapi secara ilmu, tarot adalah kumpulan 78 kartu dengan simbol-simbol yang menggambarkan perjalanan hidup manusia,” paparnya.
Setiap kartu mengandung arketipe atau pola dasar, simbol universal yang merepresentasikan fase kehidupan, konflik, hingga dinamika batin manusia. Saat kartu dibaca, yang muncul bukan sekadar prediksi, melainkan refleksi kondisi bawah sadar.
“Yang terbaca itu sebenarnya unconscious atau alam bawah sadar. Jadi bukan sekadar melihat masa depan, tapi membaca kondisi diri sendiri,” bebernya.
Karena itu, Tarot Indonesia mengedepankan pendekatan konsultatif dalam setiap sesi. Klien tidak hanya menerima hasil “ramalan”, tetapi juga diajak berdialog dan memahami persoalan hidupnya.
“Kami lebih ke konsultasi. Klien bertanya, lalu kita bantu mengurai masalah dan memberikan insight,” ujar Teguh.
Pendekatan ini membuat tarot semakin dekat dengan praktik konseling. Teguh bahkan menyebut tarot sebagai pseudoscience, yakni ilmu yang berada di antara intuisi dan pendekatan ilmiah, khususnya psikologi.
“Dia tidak sepenuhnya sains, tapi dekat dengan psikologi. Karena yang dibaca adalah pola pikir dan pengalaman hidup manusia,” katanya.
Jika ditarik jauh ke belakang, tarot memiliki sejarah panjang yang bermula di Eropa. Tarot pertama kali muncul di Italia pada era 1440.
“Awalnya bukan untuk meramal, tapi permainan kartu. Baru kemudian berkembang menjadi alat refleksi dan ramalan,” ungkapnya.
Produksi masal kartu tarot baru terjadi pada 1700-an, setelah teknologi kertas berkembang. Sementara di Indonesia, tarot mulai dikenal luas akhir 80-an hingga awal 90-an.
Pada periode tersebut, tokoh penting seperti Ibu Ani Sekarningsih dari Bali, melahirkan tarot wayang. Ini menjadi salah satu tonggak awal perkembangan tarot di Indonesia.
“Beliau punya kontribusi besar. Dari situ komunitas tarot mulai berkembang di Indonesia,” kata Teguh.
Di masa lalu, belajar tarot bukan perkara mudah. Akses terhadap kartu maupun ilmu sangat terbatas.
“Dulu kartu tarot mahal sekali, bisa sampai jutaan rupiah. Harus impor. Tidak semua orang bisa punya,” jelasnya.
Berbeda dengan sekarang, di mana kartu tarot bisa dibeli dengan harga ratusan ribu rupiah melalui marketplace. Kemudahan akses ini turut mempercepat perkembangan tarot di berbagai daerah, termasuk di Solo.
Meski terkesan kompleks, Teguh menyebut belajar tarot sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan. “Kalau dasar, dua kali pertemuan online bisa selesai. Kalau offline, sehari 6-8 jam,” ujarnya.
Namun, untuk menjadi bagian dari Tarot Indonesia Management, ada standar yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah kemampuan berpikir logis yang matang.
“Minimal lulusan S1 atau sarjana. Itu bukan soal gelar, tapi pola pikir. Karena ini menyangkut tanggung jawab,” tegasnya.
Tarot Indonesia juga membuka kelas dan sertifikasi, baik untuk pembaca (reader) maupun pengajar (trainer). Namun untuk menjadi pengajar, seseorang harus terlebih dahulu berpengalaman sebagai pembaca profesional.
“Tidak bisa langsung jadi trainer. Harus melalui tahap pembaca dulu,” jelasnya.
Dalam praktiknya, Tarot Indonesia menangani berbagai persoalan klien. Namun, satu tema yang paling dominan adalah percintaan.
“Paling banyak itu asmara. Dari remaja sampai usia lanjut,” kata Teguh.
Baca Juga: Misteri Keputusan Persis Solo Meminjamkan Sho Yamamoto Terkuak, Pemain Ini Jadi Alasannya
Disusul kemudian oleh persoalan karier, keuangan, dan kesehatan. Menariknya, tidak sedikit klien yang datang bukan hanya untuk mencari jawaban. Namun juga validasi atas keputusan yang sudah mereka ambil.
“Ada yang besok menikah, tapi masih tanya, ‘dia serius nggak?’ Itu karena insecurity,” ujarnya.
Sebagai pembaca tarot, mereka juga kerap berhadapan dengan klien dari berbagai latar belakang, termasuk publik figur dan pejabat.
“Kami memegang banyak rahasia. Itu bagian dari etika profesi,” tegas Teguh.
Di tengah anggapan bahwa tarot bisa menentukan nasib, Teguh justru menegaskan sebaliknya. Menurutnya, tarot lebih tepat dipahami sebagai alat pemetaan.
“Tarot itu seperti mind mapping. Menunjukkan pola kehidupan seseorang,” jelasnya.
Pola tersebut, lanjutnya, dapat diubah jika seseorang memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri.
“Kalau polanya diubah, hasilnya juga bisa berubah. Itu fungsi tarot, membantu orang sadar,” katanya. (*/fer)
Editor : fery ardi susanto