Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Klaim Stok Aman 76 Ribu Ton, Bulog Solo Perkuat Cadangan dan Tahan Gejolak Harga Beras

Antonius Christian • Senin, 30 Maret 2026 | 17:03 WIB
Puncak panen padi di Solo Raya pada Maret ini diharapkan dapat memperkuat candangan pangan. (A Christian/Radar Solo)
Puncak panen padi di Solo Raya pada Maret ini diharapkan dapat memperkuat candangan pangan. (A Christian/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Di tengah puncak panen raya awal 2026, Perum Bulog Kantor Cabang Surakarta bergerak cepat menyerap gabah dan beras petani. Langkah ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi menjadi instrumen penting untuk menahan gejolak harga sekaligus memastikan cadangan pangan tetap aman.

Pemimpin Cabang Bulog Surakarta Nanang Harianto, mengungkapkan pihaknya mengantongi target penyerapan sebesar 93.750 ton setara beras untuk wilayah Solo Raya. Hingga Maret 2026, realisasi sudah mencapai 29.523 ton atau sekitar 31,5 persen.

“Penyerapan sudah dimulai sejak pertengahan Januari, karena beberapa daerah lebih dulu panen. Memasuki Februari, intensitas panen meningkat dan sampai sekarang trennya masih naik,” ujarnya.

Baca Juga: BPBD Solo Siaga 24 Jam Hadapi Pancaroba, 34 Keluarga Siaga Bencana Banjir hingga Pohon Tumbang

Strategi Bulog tak lagi pasif menunggu pasokan, melainkan aktif menjemput produksi petani. Pembelian dilakukan langsung dari petani, gabungan kelompok tani (gapoktan), hingga bekerja sama dengan penggilingan padi di berbagai wilayah.

Harga pembelian gabah kering panen (GKP) ditetapkan Rp6.500 per kilogram. Angka ini menjadi penopang utama agar harga di tingkat petani tidak jatuh di tengah melimpahnya produksi.

Baca Juga: Bersiap Menghadapi Godzilla El Nino, BPBD Boyolali Ungkap Dampaknya

“Harga ini menjadi jaring pengaman. Minimal petani tidak merugi, bahkan masih berpeluang mendapatkan harga lebih baik di pasar,” jelas Nanang.

Di tengah kekhawatiran fluktuasi harga pangan, peran Bulog menjadi semakin krusial. Penyerapan yang agresif tidak hanya melindungi petani dari anjloknya harga saat panen raya, tetapi juga menjaga keseimbangan pasar dalam jangka panjang.

Baca Juga: Tegas! Buang Sampah Sembarangan di City Walk Solo, Tukang Becak Kena Sanksi Sosial

Sejauh ini, stok beras yang dikuasai Bulog Surakarta telah mencapai sekitar 76.000 ton. Cadangan tersebut tersimpan di 9 gudang induk dan 10 gudang sewa yang tersebar di Solo Raya—angka yang dinilai lebih dari cukup untuk menopang kebutuhan masyarakat.

“Dengan penyerapan yang terus berjalan, stok akan terus bertambah. Masyarakat tidak perlu khawatir, ketersediaan beras aman,” tegasnya.

Di sisi hilir, Bulog juga menjalankan mandat stabilisasi harga melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dengan target penyaluran 19.663 ton tahun ini. Sementara itu, bantuan pangan untuk Februari–Maret 2026 telah disalurkan sebanyak 17.472 ton.

Rangkaian kebijakan ini menunjukkan satu benang merah: menjaga keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen. Di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, stabilitas pangan menjadi fondasi yang tak bisa ditawar.

“Ini komitmen kami menjaga harga tetap stabil, baik di hulu maupun hilir,” pungkas Nanang. (atn)

Editor : Kabun Triyatno
#pangan #panen #beras #petani #bulog #gabah