RADARSOLO.COM – Tidak semua fasilitas publik di Kota Bengawan mendapat perhatian pemerintah.
Buktinya, kondisi Taman Buku dan Majalah di kompleks Alun-Alun Utara Keraton Solo memprihatinkan.
Pengelolaan fasilitas dan perlindungan terhadap koleksi buku masih jauh dari kata layak.
Sejumlah pedagang mengeluhkan kondisi kios yang memprihatinkan.
Selain atap bocor, kios berdebu dan penuh sarang laba-laba. Selain itu, kondisi rak buku juga rusak.
Baca Juga: Klaim Stok Aman 76 Ribu Ton, Bulog Solo Perkuat Cadangan dan Tahan Gejolak Harga Beras
Kondisi memprihatinkan tersebut sudah terjadi bertahun-tahun. Seperti pengakuan Riyadi, salah seorang pedagang yang sudah berjualan 42 tahun.
“Kalau hujan harus ditutup terpal dan plastik. Ini sudah lumayan, karena dulu jualan di tempat terbuka. Jadi kalau hujan basah semua,” keluh Riyadi, kemarin (30/3).
Baca Juga: Tegas! Buang Sampah Sembarangan di City Walk Solo, Tukang Becak Kena Sanksi Sosial
Meski kondisinya memprihatinkan, Riyadi dan pedagang lainnya tetap bersyukur. Karena harga sewa kios sangat terjangkau. Hanya Rp 30 ribu per bulan per kios. “Bersyukur diberi tempat di sini. Sebelumnya sempat pindah-pindah,” ujarnya.
Selain fasilitas, penurunan jumlah pengunjung juga menjadi kendala bagi pedagang. Riyadi mengaku sejak 2015 aktivitas pasar semakin sepi.
Ini berdampak langsung pada pendapatan yang tidak menentu.
“Bahkan pernah nggak dapat uang sama sekali dalam satu bulan,” kenangnya.
Ia berharap, ada perhatian khusus dari pemerintah terkait Taman Buku dan Majalah. Berupa perbaikan dan sistem pengelolaan yang lebih tertata, agar Taman Buku dan Majalan kembali hidup.
“Sekarang kami harus ekstra mandiri. Ada atau tidaknya pemasukan, harus bisa mengelola sendiri,” bebernya.
Kondisi serupa juga menjadi perhatian pengunjung. Siwi, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Solo ini mengaku fasilitas yang ada belum mendukung keberlangsungan pasar buku bekas.
Padahal, Taman Buku dan Majalan punya potensi cukup besar. Selain harganya terjangkau, koleksinya beragam. Terutama komik dan buku bekas.
“Saya sering ke sini sejak awal kuliah di 2024. Biasanya cari koleksi komik. Harganya murah. Satu komik Rp 7 ribu-Rp10 ribu. Kalau beli banyak, bisa lebih murah lagi,” ujarnya.
Siwi berharap ada perhatian serius dari pemerintah.
“Buku kan musuh terbesarnya air hujan. Kalau tempat tidak terawat dan bocor, pasti bukunya rusak. Kasihan pedagang dan pembeli,” bebernya. (alf/fer)
Editor : fery ardi susanto