RADARSOLO.COM - Lebih dari 50 tahun salah satu industri rumahan di Jalan Mojo, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo memproduksi sarung tenun goyor. Menariknya, sarung ini masih diproduksi manual alias menggunakan ATBM (alat tenun bukan mesin).
Di bulan suci Ramadan 1447 Hijriah ini, pesanan membanjir. Jalur distribusinya tak hanya merambah kota-kota besar di Indonesia, namun sudah menginvasi tanah Afrika, Eropa, Amerika, serta Timur Tengah.
Proses pembuatannya dengan bahan dasar benang rayon kualitas tinggi. Berikut tahapan dan detail pembuatan sarung tenun goyor:
1.Persiapan Menghani:
Tahap awal dalam pembuatan kain tenun dimulai dengan menghani, yaitu proses pemilahan benang-benang untuk dijadikan lungsi pada alat hani. Benang rayon dipisahkan menjadi benang rayon atau lusi (vertikal) untuk warna dasar. Sedangkan benang pakan (horizontal) untuk motif.
2. Pembuatan Motif:
Motif digambar dan diikat menggunakan tali rafia atau tali plastik untuk membentuk pola khas (seperti motif prilikan atau kembangan) sebelum diwarnai.
3. Pengeringan dan Pelepas Tali:
Benang yang sudah diwarnai dikeringkan, lalu tali pengikat motif dilepas (dipretelin).
4. Penataan Benang (Lerek):
Benang diatur pada alat tenun melalui proses dicucuk (memasukkan ke mata alat tenun).
5. Penenunan (ATBM):
Benang lusi dan pakan yang sudah siap, lalu dipasang di ATBM. Perajin lalu menyusun benang satu per satu dengan tangan, membutuhkan ketelitian tinggi, terutama dalam membentuk tumpal (bagian belakang sarung).
6. Finishing:
Setelah menjadi kain, sarung dilepas dari alat tenun, dipotong, dijahit ujungnya, dicuci, dan dipres (dirapikan).