Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Tabebuya di Kampung Toleransi, Simbol Nyata Merawat Keberagaman di Solo

Silvester Kurniawan • Jumat, 3 April 2026 | 16:16 WIB
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayai menyiram tanaman tabebuya di taman Ketelan. (Humas Pemkot Solo)
Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayai menyiram tanaman tabebuya di taman Ketelan. (Humas Pemkot Solo)

 

RADARSOLO.COM — Sebuah pohon tabebuya yang ditanam di Taman Ecotheology Kampung Toleransi, Kelurahan Ketelan, bukan sekadar penghijauan biasa. Penanaman itu menjadi simbol bahwa toleransi di Kota Solo tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam ruang hidup bersama.

Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani menegaskan hal tersebut saat mengikuti penanaman pohon bersama warga, Kamis (2/4).

Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat nilai keberagaman sekaligus menghadirkan ruang publik yang inklusif di tengah masyarakat yang majemuk.

Baca Juga: Kaji Dampak ke UMKM dan Layanan Publik, Solo Tak Mau Gegabah Terapkan WFH

“Melalui taman ini, kita diingatkan bahwa perbedaan adalah kekuatan yang harus dirawat bersama,” ujarnya.

Taman Ecotheology di RW 02 Ketelan sendiri memiliki cerita transformasi yang kuat. Lahan yang sebelumnya tidak produktif kini disulap menjadi ruang terbuka yang mempertemukan warga lintas agama dalam satu ruang interaksi.

Konsep ecotheology yang diusung memadukan kepedulian terhadap lingkungan dengan nilai spiritual dan sosial. Tak hanya menjadi ruang hijau, taman ini juga dirancang sebagai ruang refleksi dan dialog antarwarga.

Baca Juga: Polisi Bongkar Praktik Pengoplosan LPG 3 Kg di Tasikmadu Karanganyar, Omzet Per Bulan Capai Miliaran

“Taman ini bukan hanya ruang hijau, tetapi juga ruang interaksi dan refleksi bersama,” jelas Astrid.

Penanaman pohon tabebuya dipilih bukan tanpa alasan. Selain mempercantik kawasan dengan bunganya yang khas, pohon ini juga memiliki fungsi ekologis dalam meningkatkan kualitas udara dan menciptakan ruang yang lebih teduh.

Namun lebih dari itu, keberadaan taman ini diharapkan benar-benar hidup dan dimanfaatkan masyarakat, bukan sekadar simbol semata.

Baca Juga: Sengaja Akhiri Hidup atau Dibunuh? Polres Wonogiri Tunggu Hasil Forensik Kematian Warga Girmarto Wonogiri

“Yang terpenting, taman ini digunakan untuk merawat kebersamaan dalam perbedaan,” tegasnya.

Program Kampung Toleransi yang dikembangkan Pemkot Surakarta memang diarahkan menjadi model kehidupan harmonis berbasis komunitas. Warga Ketelan yang berasal dari berbagai latar belakang agama dinilai berhasil menunjukkan praktik nyata kerukunan di tingkat lokal.

Ke depan, Pemkot berharap konsep serupa dapat direplikasi di wilayah lain sebagai bagian dari penguatan kohesi sosial di Kota Solo.

“Kami harap apa yang dilakukan di Ketelan bisa menjadi contoh dan dikembangkan di kelurahan lain,” pungkas Astrid. (ves)

 
 
Editor : Kabun Triyatno
#Transformasi #wakil wali kota solo astrid widayani #kampung toleransi #lingkungan