RADARSOLO.COM — Sebuah video yang menampilkan dugaan kerusakan di kawasan Keraton Solo mendadak viral dan memicu polemik di ruang publik. Video tersebut memperlihatkan kondisi bocor hingga bagian bangunan yang tampak lapuk, meski objek itu baru saja direvitalisasi.
Video yang diunggah akun TikTok @Keraton Talks pada Rabu (1/4) itu menyorot bagian dalam Panggung Sangga Buwana. Dalam rekaman, terlihat sejumlah titik kebocoran, kaca pintu pecah, hingga kusen kayu yang tampak rusak.
Unggahan tersebut langsung menuai beragam respons warganet. Banyak yang mempertanyakan kualitas revitalisasi yang dilakukan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan.
Baca Juga: Tolak Keraton Kilen Dibuka untuk Wisata Umum, Pengamat Budaya: Nilai Sakralnya Bisa Luntur!
Namun, pihak Keraton Surakarta melalui Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Eddy Worabhumi, membantah keras narasi yang beredar.
“Itu video lama. Apa yang ada dalam video itu tidak sesuai dengan kondisi sekarang,” tegasnya, Jumat (3/4).
Eddy menjelaskan, kerusakan yang terlihat dalam video—seperti kaca pecah, jamur, hingga dugaan kebocoran—merupakan kondisi sebelum revitalisasi dilakukan.
Baca Juga: Fadli Zon Temukan Hidden Gem di Solo, Keraton Kilen Segera Direvitalisasi
“Yang ditampilkan itu sebelum dikerjakan. Kaca pecah itu sudah diganti. Jadi tidak menggambarkan kondisi terkini,” jelasnya.
Ia bahkan menantang publik untuk melihat langsung kondisi Panggung Sanggabuwono saat ini yang diklaim sudah dalam keadaan baik.
Menurutnya, revitalisasi yang dilakukan tidak asal-asalan karena melibatkan pendampingan dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Jawa Tengah.
“Sampai sekarang kondisinya baik. Revitalisasi ini juga didampingi penuh oleh BPK,” ujarnya.
Pihak LDA juga menilai video tersebut sengaja diviralkan kembali oleh pihak yang tidak bertanggung jawab sehingga menimbulkan persepsi keliru di masyarakat.
Di sisi lain, putri dalem PB XIII, GKR Panembangan Timoer Rumbai Kusuma Dewayani, memilih tidak banyak berkomentar terkait polemik tersebut.
Ia menyebut tidak memiliki akses langsung terhadap pengelolaan kawasan tersebut karena proses revitalisasi dan pengelolaan berada di bawah LDA dan pihak Panembahan Agung Tedjowulan.
“Saya belum bisa konfirmasi, karena yang mengelola dan memegang kunci itu pihak LDA dan Gusti Tedjowulan,” ujarnya singkat.
Polemik ini kembali membuka perhatian publik terhadap pengelolaan kawasan Keraton Surakarta, terutama di tengah sensitifnya isu revitalisasi dan dinamika internal yang masih berlangsung. (ves)