RADARSOLO.COM — Lonjakan harga plastik dalam tiga pekan terakhir membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya sektor kuliner, kian terjepit. Di tengah biaya produksi yang membengkak, mereka dihadapkan pada dilema: menaikkan harga atau kehilangan pelanggan.
Salah satu pelaku UMKM, Febri Karunia, mengaku dampak kenaikan harga plastik terasa langsung pada usaha Jagung Susu Keju (Jasuke) yang ia jalankan. Hampir seluruh komponen kemasan mengalami kenaikan signifikan.
“Kantong plastik kecil isi 100 lembar dari Rp4 ribu jadi Rp6 ribu. Cup kecil isi 50 dulu Rp10 ribu, sekarang Rp13 ribu. Sendok plastik juga naik, dari Rp7 ribu jadi Rp10 ribu per pack,” ujarnya.
Baca Juga: Cek Nominal PKH Tahap 2 yang Cair April 2026: Ini Rincian Dana Bansos Tiap Kategori Penerima
Kenaikan tersebut membuat margin keuntungan semakin tergerus. Dalam satu porsi Jasuke seharga Rp5.000, ia harus menyediakan cup, sendok, dan kantong plastik sekaligus—yang kini biayanya jauh lebih tinggi.
Meski demikian, Febri mengaku tak berani menaikkan harga jual.
Baca Juga: Cara Cek Penerima PKH Tahap 2 2026: Bansos Cair Mulai Pekan Kedua April, Ini Panduannya!
“Kalau dinaikkan takut pembeli kabur. Jadi sekarang ya yang penting nutup modal dulu, untungnya tipis sekali,” katanya.
Kondisi serupa juga dialami Sri Purwani, pedagang jus buah di Shelter Manahan. Ia terpaksa menyiasati kenaikan harga dengan mengurangi porsi bahan baku.
Sementara itu, pedagang lain, Rikha, menyebut kenaikan harga plastik bahkan menembus lebih dari 30 persen.
“Cup plastik ukuran 18 yang dulu Rp13 ribu sekarang jadi Rp28 ribu. Dulu bisa untung Rp1.000 sampai Rp1.500 per cup, sekarang jauh berkurang,” keluhnya.
Menurutnya, menaikkan harga jual bukan pilihan mudah karena berisiko kehilangan pelanggan.
“Kalau dinaikkan, pembeli bisa lari,” imbuhnya.
Pemerintah Kota Surakarta membenarkan adanya keluhan dari pelaku usaha terkait lonjakan harga plastik. Namun, hingga saat ini, langkah yang bisa dilakukan masih terbatas pada imbauan dan sosialisasi.
Baca Juga: Alhamdulillah, Kuota Haji bagi Warga Sragen Naik Jadi 1.141 Orang: Antrean Juga Lebih Singkat
Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta, Arif Handoko, mengatakan pihaknya mendorong pelaku usaha mencari alternatif bahan pengganti plastik.
“Sementara kami hanya bisa menyarankan, mungkin bisa cari alternatif lain atau menyesuaikan harga jual. Ini memang sulit, berbeda dengan bahan pokok penting yang bisa diintervensi lewat operasi pasar,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga plastik tidak bisa dilepaskan dari faktor global, terutama terganggunya distribusi bahan baku akibat konflik di Timur Tengah.
Kondisi tersebut juga diakui Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso. Ia menyebut pasokan bahan baku plastik seperti nafta terganggu akibat situasi geopolitik, termasuk penutupan jalur distribusi strategis.
“Ini memang masalah global. Beberapa negara pemasok seperti Singapura, Thailand, Korea Selatan, hingga Taiwan juga terdampak,” ujarnya.
Di tengah situasi ini, pelaku UMKM hanya bisa bertahan sambil berharap harga kembali stabil.
“Ya berharap saja kondisi segera membaik. Kalau tidak, usaha kecil seperti kami makin berat,” pungkas Febri. (ves)
Editor : Kabun Triyatno