RADARSOLO.COM — Beban PLTSa Putri Cempo yang terus disorot akhirnya memaksa Pemerintah Kota Solo mengambil langkah konkret. Salah satu sektor yang kini dibidik adalah pasar tradisional, yang selama ini menjadi penyumbang besar sampah harian kota.
Pemkot menargetkan pengurangan sampah dari pasar tradisional hingga 30–50 persen agar tidak seluruhnya berakhir di tempat pembuangan akhir. Langkah ini dinilai krusial untuk mengurangi tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah yang selama ini masih berat di hilir.
Kepala Dinas Perdagangan Kota Solo Arif Handoko mengatakan upaya ini mulai disosialisasikan ke pedagang di 44 pasar tradisional.
Baca Juga: Rawan Kecelakaan! Aduan Jalan Berlubang di Solo Membeludak, Perbaikan Baru Digenjot Kemarau
“Produksi sampah harian dari pasar tradisional ini coba kita tekan 30 sampai 50 persen, agar tidak semua dibuang ke Putri Cempo,” ujarnya, Selasa (7/4).
Selama ini, pasar tradisional menyumbang sekitar 33 persen dari total sampah harian Solo yang mencapai 386 hingga 419 ton. Angka tersebut menjadikan pasar sebagai salah satu titik krusial dalam persoalan sampah kota.
Karena itu, pemkot mendorong pengelolaan dari hulu, baik untuk sampah organik seperti sisa sayuran, maupun nonorganik seperti plastik dan kardus. Sejumlah pihak sebenarnya sudah terlibat dalam penampungan dan pengolahan sampah pasar, namun dinilai belum optimal.
“Sudah ada yang menampung, baik sampah sayuran maupun plastik. Tapi ini harus dimaksimalkan supaya yang dibawa ke TPA bisa berkurang signifikan,” tegas Arif.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi besar pembenahan tata kelola sampah yang kini didorong lebih terintegrasi, dari hulu hingga hilir.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, menegaskan pengelolaan sampah tidak bisa lagi hanya mengandalkan penanganan di akhir (hilir), tetapi harus dimulai dari sumbernya.
“Kami fokuskan pengelolaan sampah dari hulu sampai hilir. Di hilir kita gandeng perguruan tinggi, sementara di hulu kita libatkan masyarakat,” ujarnya.
Pemkot juga berencana menggandeng kelompok masyarakat untuk memperkuat pemilahan dan pengolahan sampah di tingkat lokal. Langkah ini diharapkan mampu menekan volume sampah yang masuk ke Putri Cempo secara signifikan.
Dengan tekanan sampah yang terus meningkat, keberhasilan kebijakan ini akan menjadi penentu apakah Solo mampu keluar dari persoalan klasik pengelolaan sampah—atau justru semakin terbebani di masa depan. (ves)
Editor : Kabun Triyatno