RADARSOLO.COM — Menjelang Hari Kartini, Pemerintah Kota Solo mendorong peran perempuan tidak berhenti pada simbol, tetapi bertransformasi menjadi kekuatan nyata dalam pembangunan.
Pesan itu disampaikan Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, saat menghadiri kegiatan bersama Komunitas Pecinta Kebaya Solo di Taman Balekambang, Kamis (9/4).
Dalam forum yang diikuti perempuan lintas usia dan profesi tersebut, Astrid menekankan pentingnya melanjutkan semangat emansipasi yang diwariskan R.A. Kartini, tidak hanya dalam wacana, tetapi juga aksi konkret.
Baca Juga: Korban Investasi Bodong Bisnis Air Kemasan di Sragen Mengadu ke Kompolnas: Kerugian Ratusan Juta
“Kami mengapresiasi komunitas ini. Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebaya tidak sekadar busana tradisional, melainkan simbol identitas perempuan Indonesia yang memiliki akar sejarah panjang. Karena itu, keberadaannya perlu dijaga dengan cara terus digunakan dan dimaknai dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Prabowo Resmikan Pabrik Bus Listrik di Magelang, Target Tekan Subsidi BBM Triliunan
Namun lebih jauh, Astrid mengingatkan bahwa kebaya seharusnya tidak berhenti sebagai simbol budaya semata. Ia harus menjadi pintu masuk untuk mendorong kontribusi perempuan dalam berbagai sektor.
“Kebaya jangan hanya jadi simbol. Harus bisa berkontribusi nyata dalam pembangunan,” tegasnya.
Menurutnya, keberagaman latar belakang anggota komunitas—mulai dari usia, profesi, hingga lingkungan sosial—menjadi bukti bahwa perempuan masa kini memiliki ruang yang luas untuk berperan aktif.
Baca Juga: 71 Mobil Operasional KDMP Tiba di Boyolali, Tahap Awal Dibagikan Ke Koperasi Yang Sudah Operasional.
Pemkot Solo, lanjut Astrid, membuka peluang kolaborasi melalui berbagai program strategis, termasuk dalam kerangka Asta Cita Surakarta yang mencakup sektor kesehatan, penguatan sumber daya manusia, pembangunan, hingga kebudayaan.
“Kami membuka ruang seluas-luasnya agar gerakan kebudayaan ini bisa berdampak langsung pada pembangunan daerah,” imbuhnya.
Kegiatan ini sekaligus menjadi refleksi bahwa semangat Kartini di era modern tidak lagi sekadar memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga bagaimana perempuan mampu mengambil peran strategis—tanpa meninggalkan identitas budaya yang melekat. (ves)
Editor : Kabun Triyatno