SOLO – Kota Solo kian mengukuhkan diri sebagai kota ramah disabilitas yang inklusif. Ini terlihat dalam agenda Walk for Autism di Pura Mangkunegaran, Minggu (12/4).
Tercatat ribuan peserta dari belasan yayasan dan SLB ambil bagian dalam kemeriahan tersebut.
Wali Kota Solo Respati Ardi yang hadir dalam kegiatan menjelaskan, Walk for Autism ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda seremonial semata.
Ia mendorong lebih banyak organisasi dan komunitas yang ikut membersamai secara berkelanjutan.
“Selain menjadi ajang kebersamaan, kegiatan ini turut membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Solo dalam memberikan pelayanan yang lebih inklusif bagi seluruh warga. Berbagai elemen dilibatkan, mulai siswa, sekolah inklusi, hingga atlet National Paralympic Committee (NPC) daerah,” ungkap Respati.
Baca Juga: Tanpa Dukungan Suporter, Persis Solo Tetap Perkasa di Manahan Kalahkan Semen Padang
Respati menambahkan, Pemkot Solo sudah memiliki peraturan daerah (perda) yang mewajibkan fasilitas umum, termasuk pusat perbelanjaan agar ramah disabilitas. Bahkan, ada dorongan agar tempat usaha menerima tenaga kerja dari kalangan disabilitas secara lebih luas.
Selain itu, berbagai organisasi seperti perkumpulan penyandang disabilitas turut ambil peran dalam mengawal gerakan ini. Dari semangat inklusivitas ini, diharapkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat.
Kakak KGPAA Mangkunegara X, GRAj. Ancillasura Marina Sudjiwo alias Gusti Sura menegaskan, acara ini juga menjadi pesan kuat bahwa kawasan budaya terbuka dan ramah bagi penyandang disabilitas.
Masyarakat diajak untuk melihat, bahwa semua individu memiliki kedudukan yang setara.
Dalam kegiatan tersebut, anak-anak disabilitas menampilkan berbagai pertunjukan seperti tari dan kreativitas lainnya. Penampilan ini menjadi bukti, bahwa mereka memiliki kemampuan dan potensi yang tidak kalah dengan anak-anak pada umumnya.
Sementara itu, Local Precident Junior Chamber International (JCI) Pulung Priyo Utomo menyebut, total peserta yang terlibat lebih dari seribu orang. Mereka berasal dari 16 yayasan dan SLB di Kota Bengawan. Mulai dari siswa, orang tua, hingga guru.
“Kegiatan ini juga bagian dari rangkaian program berkelanjutan. Ke depan, akan digelar agenda lanjutan yang menyasar orang tua, guru, serta penguatan metode pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus. Selain itu, panitia juga merencanakan tes minat dan bakat khusus bagi anak autisme,” paparnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Pulung berharap anak-anak autisme memperoleh kesempatan yang setara. Tidak merasa dikucilkan, serta mampu berkiprah di dunia kerja sebagaimana masyarakat pada umumnya. (alf/fer)\
Editor : fery ardi susanto