RADARSOLO.COM – Hujan deras yang mengguyur Kota Solo dan sekitarnya sejak Selasa (14/4/2026) malam hingga Rabu (15/4/2026) pagi menyebabkan sejumlah wilayah terendam banjir. Salah satu titik terdampak cukup parah berada di kawasan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta.
Genangan air di wilayah tersebut sempat surut pada dini hari. Namun, kondisi kembali memburuk pada pagi harinya setelah debit air meningkat secara tia-tiba. Warga pun dibuat kaget karena banjir datang untuk kedua kalinya dalam waktu yang relatif singkat.
Watik, warga Joyotakan RT 01/RW 02, menuturkan bahwa banjir awalnya terjadi sejak malam hari. Meski sempat surut, air kembali datang sekitar pukul 10.00 WIB dengan ketinggian yang lebih signifikan.
“Banjir kan semalam sudah banjir, terus sudah surut, banjir itu datang lagi pagi hari, pagi sekitar jam 10 itu airnya sudah datang. Karena pintu airnya sana dari Tanjung Anom itu dibuka,” ujar Watik saat ditemui di lokasi.
Baca Juga: Parah! Inilah Sekolah-Sekolah di Sukoharjo yang Terdampak Banjir
Ia menjelaskan, ketinggian air di depan rumahnya mencapai dada orang dewasa. Kondisi tersebut diperparah dengan kontur tanah yang lebih rendah dibandingkan area sekitarnya, sehingga air mudah menggenang.
“Itu kalau di depan rumah saya itu ya sedada orang dewasa soalnya kondisi tanahnya cekung begitu. Untuk saat ini saya tidak mengungsi karena barang-barang sudah diamankan di lantai 2,” imbuhnya.
Sementara yang lain bertahan, beberapa warga terpantau mengungsi di pinggiran jalan sambil menunggu bantuan dari pemerintah dan BPBD. Mereka membawa barang seadanya untuk menyelamatkan kebutuhan penting.
Kondisi banjir tidak hanya berdampak pada permukiman warga. Genangan air juga mengganggu aktivitas lalu lintas di sejumlah ruas jalan utama.
Salah satu titik yang terdampak cukup parah berada di jalur Jalan Yos Sudarso hingga Jalan Ir. Soekarno. Hingga siang hari, arus kendaraan di kawasan tersebut terpantau mengalami kemacetan panjang akibat genangan air yang belum surut.
Sejumlah kendaraan roda dua bahkan terpaksa memutar arah karena tidak mampu melintasi genangan yang cukup tinggi. Sementara kendaraan roda empat harus melaju perlahan untuk menghindari mogok.
Warga berharap ada penanganan cepat dari instansi terkait, terutama dalam pengaturan debit air serta distribusi bantuan bagi warga terdampak. (hj/nik)