RADARSOLO.COM - Sudah tahu ghibah atau menggunjing adalah dosa besar dalam agam Islam, yang diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri.
Tapi, budaya rasan-rasan ini seolah menjadi bumbu penyedap di setiap tongkrongan emak-emak, bahkan bapak-bapak.
Inilah penyebab retaknya rumah tangga Temon dan Sipon, warga Kecamatan Jebres, Solo.
Biduk rumah tangga pasangan Temon dan Sipon resmi berakhir. Majelis hakim Pengadilan Agama (PA) Solo mengabulkan gugatan cerai mereka.
Retaknya hubungan keduanya dipicu tekanan dari budaya rasan-rasan di lingkungan sekitar.
Ditemui usai sidang, Temon mengaku faktor eksternal seperti lingkungan pergaulan dan tekanan sosial, ikut memicu konflik dalam rumah tangganya.
“Banyak hal yang awalnya hanya masalah sepel, tapi karena pengaruh dari luar, akhirnya jadi bahan perdebatan dengan istri,” ujar Temon.
Menurut Temon, “bumbu penyedap” yang diserap Sipon setelah mengghibah sering memicu perasaan tidak nyaman. Entah itu soal pekerjaan, kondisi ekonomi, maupun kehidupan pribadi.
“Kadang ada tetangga yang membandingkan. Ada juga yang memberi komentar tidak enak di telinga. Lama-lama terbawa ke rumah,” imbuh Temon.
Temon mengakui, ia dan Sipon kerap terpengaruh penilaian tetangga. Ini membuat hubungan keduanya tak lagi harmonis. Penuh tekanan untuk memenuhi ekspektasi lingkungan.
“Seharusnya kami fokus pada kehidupan rumah tangga sendiri. Tapi yang terjadi, justru sering memikirkan apa kata tetangga dan orang lain,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat komunikasi keduanya menjadi tidak sehat. Banyak pembicaraan yang berujung saling menyalahkan, karena merasa tertekan oleh keadaan di luar rumah.
“Kalau sudah terbawa emosi, hal kecil saja bisa jadi besar,” bebernya.
Harus diakui, Temon kurang membatasi pengaruh lingkungan terhadap kehidupan rumah tangganya. Ia menilai hal tersebut menjadi salah satu kesalahan paling fatal.
Baca Juga: Benarkah Rumah Tangga Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Ada Perselingkuhan? Diguncang Isu Cerai
“Mungkin saya kurang tegas, mana yang harus didengar dan mana yang tidak,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, konflik yang dipicu tekanan eksternal semakin sering terjadi. Hingga akhirnya membuat hubungan keduanya tidak lagi harmonis.
“Lama-lama capek sendiri,” ujarnya.
Majelis hakim PA Solo akhirnya perceraian Temon dan Sipon, setelah mempertimbangkan kondisi rumah tangga keduanya yang dinilai sulit dipertahankan. Meski pernikahan mereka telah berakhir, Temon berharap pengalaman ini menjadi pembelajaran.
“Ke depan saya ingin lebih fokus pada apa yang saya jalani sendiri. Tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain,” bebernya. (atn/fer)
Editor : fery ardi susanto