RADARSOLO.COM - Kabar keberangkatan jemaah calon haji (calhaj) asal Kota Solo mulai menemui titik terang.
Sebanyak 521 jemaah dipastikan akan diberangkatkan pada musim haji 2026/1447 Hijriah.
Di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah, pemerintah memastikan seluruh proses ibadah tetap aman dan tidak terdampak.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Solo, Saiful Anwar, mengungkapkan total jemaah tersebut merupakan gabungan dari berbagai kategori.
Mulai dari jemaah reguler, prioritas lansia, penggabungan mahram, hingga jemaah cadangan yang mengisi kuota karena adanya pembatalan keberangkatan.
Baca Juga: Tak Pengaruh Konflik di Timur Tengah, Minat Daftar Haji Warga Klaten Masih Tinggi Pasca-Lebaran
“Totalnya 519 jemaah ditambah pendamping dan pembimbing. Termasuk juga cadangan, yakni mereka yang menggantikan jemaah yang batal berangkat karena sakit, meninggal dunia, atau menunda keberangkatan,” jelasnya.
Ratusan jemaah tersebut tersebar di lima kecamatan di Kota Bengawan. Kecamatan Laweyan menjadi penyumbang terbanyak dengan 174 jemaah, disusul Banjarsari 162 jemaah, Pasar Kliwon 70 jemaah, Jebres 70 jemaah, serta Serengan 45 jemaah.
Dari sisi usia, keberagaman jemaah cukup mencolok. Jemaah termuda tercatat berusia 13 tahun yang berangkat melalui pelimpahan porsi orang tua.
Sementara jemaah tertua berusia 87 tahun, yang tetap dinyatakan layak berangkat setelah melalui pemeriksaan kesehatan.
“Ini menunjukkan bahwa semangat beribadah sangat tinggi di semua kalangan usia. Namun kami tetap mengingatkan agar kondisi kesehatan menjadi prioritas utama,” imbuh Saiful.
Seluruh jemaah dijadwalkan berangkat dalam dua kelompok terbang (kloter) melalui embarkasi menuju Bandara Jeddah, Arab Saudi.
Saat ini, berbagai persiapan terus dimatangkan, mulai dari manasik haji, pemeriksaan kesehatan, hingga kelengkapan administrasi.
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait situasi kawasan Teluk yang memanas, Saiful menegaskan tidak ada pengaruh terhadap pelaksanaan ibadah haji tahun ini.
Kepastian tersebut diperoleh dari koordinasi pemerintah Indonesia dengan otoritas Arab Saudi.
“Pihak Arab Saudi melalui kedutaannya sudah memastikan bahwa kondisi di kawasan Teluk tidak mempengaruhi pelaksanaan haji. Jadi kami imbau jemaah dan keluarga tetap tenang, tidak perlu khawatir,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan jemaah agar fokus pada persiapan ibadah, menjaga kebugaran, serta memperbanyak latihan manasik agar pelaksanaan di Tanah Suci berjalan lancar.
Di sisi lain, minat masyarakat terhadap program haji khusus terus menunjukkan tren peningkatan. PT Jelajah Wisata Thoyibah, salah satu penyelenggara haji khusus, tahun ini hanya membuka kuota terbatas sebanyak dua bus atau sekitar 98 jemaah.
Direktur Utama PT Jelajah Wisata Thoyibah, Akmaludin Akbar, mengatakan pembatasan kuota dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga kualitas layanan.
"Kami memang sengaja membatasi kuota. Tujuannya agar pelayanan lebih maksimal, lebih fokus, dan jamaah benar-benar merasakan kenyamanan selama beribadah,” ujarnya, Sabtu (18/4).
Program haji khusus yang ditawarkan mengusung konsep layanan premium. Jamaah akan mendapatkan fasilitas hotel bintang lima di Makkah dan Madinah dengan lokasi yang sangat dekat dengan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Menurut Akmaludin, faktor jarak penginapan menjadi krusial mengingat ibadah haji membutuhkan kondisi fisik yang prima.
“Kalau hotel dekat, jamaah tidak perlu berjalan jauh. Energi bisa lebih dihemat untuk ibadah inti,” jelasnya.
Tak hanya itu, fasilitas di Arafah dan Mina juga menjadi perhatian utama. Jamaah akan ditempatkan di tenda VIP dengan akses yang dekat ke Jamarat, sehingga memudahkan saat pelaksanaan lempar jumrah.
“Ini bukan sekadar kenyamanan, tapi juga soal keamanan dan kesehatan jamaah,” tambahnya.
Dari sisi layanan, pihaknya menyiapkan tim pendamping lengkap, mulai dari pembimbing ibadah bersertifikat, tenaga medis, hingga tim pendukung di Arab Saudi yang siap siaga selama proses ibadah berlangsung.
Dengan biaya sekitar USD 15.500 untuk paket all-in, jamaah akan mendapatkan layanan menyeluruh, mulai dari akomodasi, transportasi, konsumsi, hingga pendampingan ibadah secara intensif.
Seluruh jamaah haji khusus tersebut dijadwalkan berangkat pada 8 Mei mendatang.
Sebelum keberangkatan, mereka telah mengikuti rangkaian manasik sebagai bekal pemahaman ibadah.
Menariknya, tren pendaftar haji khusus saat ini mulai didominasi kalangan usia muda. Bahkan, tidak sedikit yang berusia di bawah 30 tahun sudah mendaftar.
“Ini tren yang sangat positif. Kesadaran generasi muda untuk berhaji lebih awal semakin meningkat,” ungkap Akmaludin. (atn)
Editor : Nur Pramudito