Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Eksistensi Kayuh Comma, Komunitas Pesepeda Perempuan di Solo Yang Getol Perangi Catcalling

Alfida Nurcholisah • Minggu, 19 April 2026 | 19:32 WIB
Anggota komunitas Kayuh Comma gowes melintasi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, MInggu pagi (19/4). (DOK. PRIBADI)
Anggota komunitas Kayuh Comma gowes melintasi Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, MInggu pagi (19/4). (DOK. PRIBADI)

RADARSOLO.COM - Berbagai komunitas yang menaungi aktivitas perempuan hadir di Kota Solo. Salah satunya Kayuh Comma, wadah bagi perempuan pecinta gowes.

Pemandangan berbeda hadir di Jalan Jenderal Sudirman, depan Balai Kota Solo, Minggu pagi (19/4) sekira pukul 07.00.

Sejumlah perempuan berkebaya, bersiap mengayuh sepedanya masing-masing. Seorang di antaranya Destyn Ayu Safitri yang merupakan anggota Kayuh Comma. 

Berangkat dari kebiasaan gowes bersepeda setiap hari, Destyn mulai merintis wadah bagi perempuan di Kota Solo untuk bersepeda bersama.

Tentunya dalam balutan dalam suasana yang aman dan nyaman. Inilah yang mendasari terbentuknya Kayuh Comma.

Baca Juga: 7 Merek Sabun Cuci Muka Facial Wash yang Aman untuk Ibu Hamil: Harga Mulai Rp20 Ribuan

Nah, momentum Hari Kartini yang jatuh pada Selasa (21/4) besok, dimanfaatkan untuk menggelar kegiatan bersama Kayuh Comma.

Aksi gowes bareng sengaja dimajukan jadi Minggu, dengan diikuti sekira 15 peserta lintas usia. Mulai dari anak muda hingga emak-emak.

Mereka dengan santai gowes keliling Kota Bengawan dengan mengenakan kebaya. Outfit ini sengaja dipilih sebagai dresscode, untuk menambah kental nuansa perayaan Hari Kartini.

Baca Juga: Nestapa Istri Gepeng Srimulat di Rumah Kontrakan Sempit Bersama 12 Anak dan Cucu

“Kami sengaja menggunakan kebaya, sebagai simbol perempuan juga berhak memiliki ruang aman untuk bersepeda,” ujar Destyn.

Rute yang ditempuh tak jauh dan tidak melelahkan. Mengambil start dari balai kota, lalu menyusuri sejumlah ruas jalan utama, hingga finis di Pasar Jongke, Laweyan.

Tak sekadar gowes, kegiatan juga diisi dengan diskusi ringan. Para peserta saling berbagi cerita mengenai tantangan yang dihadapi perempuan, termasuk soal rasa aman gowes di jalanan.

“Kadang pesepeda perempuan merasa tidak aman. Salah satunya karena masih sering mengalami catcalling ketika bersepeda malam hari,” beber Destyn.

Harus diakui, saat ini belum banyak komunitas sepeda yang secara khusus mewadahi perempuan. Karena itu, kehadiran Kayuh Comma dinilai penting untuk saling menguatkan. Sekaligus meningkatkan rasa pede (percaya diri) saat bersepeda.

“Kami juga berdiskusi soal tantangan perempuan pesepeda. Masih banyak yang perlu diperhatikan. Salah satunya rasa aman dari catcalling ketika bersepeda,” ujarnya.

Baca Juga: Wali Kota Respati Ardi: Gerakan Solo Friday Ride Perkuat Citra Kota Wisata dan Olahraga

Selain catcalling, Kayuh Comma juga menyoroti minimnya penerangan di beberapa jalur sepeda. Bahkan di Jalan Slamet Riyadi saat malam hari. Termasuk alih fungsi jalur sepeda untuk lahan parkir.

“Jalur sepeda di Solo ini masih minim penerangan. Banyak juga yang dipakai untuk parkir motor. Pemerintah harus meninjau seluruh fasilitas publik, termasuk jalur sepeda,” bebernya.

Hadirnya Kayuh Comma, diberharapkan semakin banyak perempuan yang bergabung dan melirik moda transportasi tradisional ini. Apalagi saat ini memerintah sedang gencar menerapkan efisiensi energi.

“Kami sudah tiga kali kegiatan. Dari inisiatif ini, semoga terus berkembang dan menjadi langkah awal untuk mendorong ruang publik yang lebih aman dan inklusif bagi perempuan di Solo,” harapnya. (*/fer)

Editor : fery ardi susanto
#kayuh comma #komunitas gowes perempuan di solo #gowes #catcalling