Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kartini Masa Kini: Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, "Perempuan Tangguh Itu Berani Melangkah"

Silvester Kurniawan • Selasa, 21 April 2026 | 15:17 WIB
Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Solo
Astrid Widayani, Wakil Wali Kota Solo (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM -  Perjalanan hidup kerap membawa seseorang pada persimpangan yang tak pernah direncanakan. Bagi Astrid Widayani, dunia politik adalah wilayah baru yang dulu terasa jauh, namun kini justru menjadi medan pengabdian utamanya bagi Kota Bengawan.

Tak ada ambisi politik sejak awal dalam benak perempuan kelahiran 9 November 1986 ini. Sebagai putri dari pasangan akademisi Prof. Dr. H.S. Brodjo Sudjono dan Dr. Roch Mulyani, Astrid tumbuh dengan karakter tangguh dan pendirian kuat yang berakar pada dunia pendidikan. Sebelum terjun ke kancah Pilkada Solo 2024, ia lebih dikenal sebagai figur intelektual yang fokus membangun sumber daya manusia.

Baca Juga: Linda Sudeni Sigit Pamungkas, Merawat Napas Kartini lewat Pemberdayaan Perempuan

“Saya tidak pernah membayangkan masuk ke politik. Ini lebih pada jalan pengabdian dan kecintaan pada kota kelahiran saya,” ucap Astrid saat ditemui di Rumah Dinas Wakil Wali Kota Solo di Ngesus, Kelurahan Ketelan, belum lama ini.

Pengalaman lebih dari 15 tahun di dunia akademik menjadi kawah candradimuka yang membentuk pola pikirnya. Dari ruang kelas hingga jabatan rektor, Astrid membangun fondasi berpikir manajemen strategis yang kini ia terapkan dalam birokrasi. Bagi Astrid, pendidikan adalah bekal mutlak bagi seorang pemimpin agar mampu melihat persoalan secara multidimensi.

Baca Juga: Hari Kartini, Farida Rober Christanto Ajak Perempuan di Karanganyar Mandiri dan Mengabdi Sepenuh Hati

Meski kini disibukkan dengan agenda pejabat publik, ia tetap gigih menuntaskan jenjang doktoralnya. Ia percaya bahwa kebijakan yang matang lahir dari perpaduan antara pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman.

“Jika kita punya bekal ilmu yang cukup, kita bisa melakukan langkah-langkah preventif dan meminimalkan kesalahan. Kalau dulu saya tidak mau terus belajar, mungkin saya tidak akan sampai di titik ini,” tuturnya.

Dalam menjalankan tugasnya, Astrid memegang teguh prinsip Jawa: Banyu Mili Ning Ora Keli. Falsafah ini mengajarkan agar hidup terus mengalir memberikan manfaat bagi sesama (banyu mili), namun tetap memiliki pendirian kuat dan tidak mudah terseret arus (ning ora keli).

Baca Juga: ‎Sri Rahayuningsih Setyo Sukarno: Dari Didikan 'Prihatin' hingga Ruang Pengabdian yang Lebih Luas

Konsep ini berpusat pada sikap ikhlas namun konsisten. Baginya, pemimpin harus fleksibel dalam merangkul masyarakat yang heterogen, namun tetap teguh pada integritas. “Ketika kita mau selalu belajar dan beradaptasi, apapun mimpi kita pasti akan tiba pada tujuan,” paparnya.

Langkah menuju kursi Wakil Wali Kota Solo tak dilalui tanpa pergulatan batin. Kekhawatiran akan kerasnya dunia politik sempat muncul, terutama terkait waktu untuk anak-anaknya yang masih kecil. Namun, dukungan penuh dari sang suami dan doa restu ibu menjadi penguat langkahnya.

“Saya ingat betul ibu saya bilang, kalau memang sudah jatahnya pasti akan datang, namun kalau tidak berarti belum waktunya. Pesan itu yang membuat saya pasrah namun tetap berusaha maksimal,” kenang Astrid.

Kini, di tengah kepadatan agenda pemerintahan, ia menyiasati berkurangnya kuota waktu dengan menjaga kualitas kebersamaan. Menonton film atau sekadar makan malam bersama anak-anak menjadi momen quality time yang tak bisa ditawar.

Di balik seragam dinasnya, Astrid menyimpan bakat musik yang mumpuni. Belajar otodidak sejak kecil, ia mahir membaca not balok, mengaransemen lagu, hingga mendalami karawitan. Tak heran jika dalam berbagai kesempatan, ia kerap tampil dadakan menghibur warga.

Wawali Solo Astrid Widayani berbaur dengan pedagang Pasar Gede. (Arief Budiman/Radar Solo)
Wawali Solo Astrid Widayani berbaur dengan pedagang Pasar Gede. (Arief Budiman/Radar Solo)

Jiwa seninya ini pula yang membuatnya lebih nyaman menggunakan pendekatan humanis saat bertugas. Ia lebih memilih turun langsung ke lapangan ketimbang hanya menerima laporan di balik meja.

“Ada kedekatan yang tidak bisa digantikan ketika kita bisa mendengar dan merasakan langsung keluhan warga. Dengan melihat sendiri, penanganan masalah bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” pungkasnya. 

Mengisi Ruang dengan Karya Nyata

Di balik geliat dinamis Kota Solo, tersimpan kisah-kisah sunyi tentang perempuan yang memikul beban besar demi masa depan keluarga. Bagi Wakil Wali Kota Solo Astrid Widayani, narasi-narasi akar rumput ini bukanlah sekadar data, melainkan potret nyata yang wajib diselami langsung melalui interaksi di lapangan.

Dalam perjalanannya menyapa warga, Astrid menemukan bahwa tantangan perempuan di Kota Bengawan masih didominasi oleh isu-isu fundamental, terutama keterbatasan akses ekonomi dan pendidikan. Tak jarang, ia menemui para ibu yang mencurahkan kegelisahannya dalam membiayai sekolah anak hingga ke jenjang perguruan tinggi.

“Selain itu, isu perlindungan perempuan dan anak tetap menjadi prioritas. Meski secara statistik tidak melonjak, penanganan terhadap kasus kekerasan dan pelecehan harus mendapatkan perhatian serius dari pemerintah,” tegas Astrid.

Salah satu pengalaman yang paling menggetarkan sanubari Astrid adalah pertemuannya dengan seorang perempuan kepala keluarga di Solo. Ibu tangguh tersebut tengah berjuang melawan penyakit tumor ganas dan berada dalam kondisi ekonomi yang sulit untuk berobat. Namun, di tengah keterbatasan fisik dan biaya, ia berhasil membuktikan kekuatannya dengan menyekolahkan seluruh anaknya hingga menyandang gelar sarjana.

“Ada perempuan yang berjuang sangat keras sebagai tulang punggung keluarga, entah karena perpisahan atau ditinggal wafat suami. Menjumpai seorang ibu yang sakit berat namun mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana itu sangat luar biasa. Itu adalah simbol ketangguhan yang nyata,” tutur Astrid dengan nada haru.

Semangat pantang menyerah tersebut terus hidup dalam langkah perempuan-perempuan Solo yang bekerja dalam senyap, namun memberikan dampak masif bagi masa depan generasi. Hal inilah yang mendasari Pemerintah Kota (Pemkot) Solo untuk memfokuskan program pemberdayaan pada kelompok perempuan, khususnya para perempuan kepala keluarga.

Memaknai momentum Hari Kartini, Astrid mengajak seluruh perempuan untuk merefleksikan kembali perjuangan R.A. Kartini secara lebih luas dan relevan dengan tantangan zaman.

“Jika dahulu Kartini membuka jalan bagi perempuan untuk memperoleh hak, maka perempuan masa kini memiliki tanggung jawab untuk mengisi ruang tersebut dengan karya dan kontribusi nyata,” paparnya.

Menurut Astrid, keberanian adalah kunci utama bagi perempuan untuk bergerak maju. Ia menekankan bahwa kesempatan di era sekarang sudah terbuka lebar, tinggal bagaimana individu tersebut meresponsnya.

“Perempuan tidak perlu menunggu kata siap untuk berani melangkah. Keberanian justru lahir dari kemampuan memahami diri sendiri dan menghadapi ketakutan. Sekarang kesempatan sudah terbuka luas, tinggal bagaimana kita berani mengambilnya dengan penuh tanggung jawab,” pungkas Astrid. (ves)

 

 

Editor : Kabun Triyatno
#kontribusi nyata #perempuan #tangguh #wakil wali kota solo astrid widayani #humanis