Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Kartini Tak Selalu Berkebaya, Mereka Ada di Pasar Legi Solo: Upah Rp 5 Ribu, Semangat Tak Pernah Luntur!

Alfida Nurcholisah • Selasa, 21 April 2026 | 23:35 WIB
PEREMPUAN SUPER: Seorang buruh gendong di Pasar Legi tengah mengangkut barang. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
PEREMPUAN SUPER: Seorang buruh gendong di Pasar Legi tengah mengangkut barang. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM — Semangat Raden Ajeng Kartini tak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga nyata dalam keseharian perempuan-perempuan tangguh di pasar tradisional. Di Pasar Legi, sosok Kartini masa kini terlihat jelas dari para buruh gendong yang bekerja tanpa kenal lelah demi menghidupi keluarga.

Di tengah kerasnya kehidupan, para perempuan ini menjalani berbagai pekerjaan tanpa rasa gengsi. Mereka mengangkat beban berat, berjalan dari satu sudut pasar ke sudut lainnya, demi memastikan dapur tetap “ngebul” dan kebutuhan keluarga terpenuhi.

Momentum Hari Kartini menjadi refleksi bahwa perjuangan perempuan belum usai. Para buruh gendong di Pasar Legi menjadi bukti nyata bahwa perempuan mampu bertahan dan terus berjuang dalam kondisi apa pun.

Melihat hal tersebut, Mercure Solo memilih merayakan Hari Kartini dengan cara berbeda. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), pihak hotel berbagi kebahagiaan dengan para buruh gendong di Pasar Legi, kemarin (21/4).

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Profil Istri Bupati Boyolali Dita Agus Irawan, Pemikiran Perempuan Harus Berdaulat

General Manager Mercure Solo Dodit Nindyo Hapsoro mengungkapkan, buruh gendong dipilih sebagai representasi Kartini masa kini yang memiliki semangat juang tinggi. “Kalau dilihat, usia mereka sudah sangat sepuh, tapi tidak mudah menyerah menghadapi kondisi ekonomi yang sulit. Semangat juangnya layak kita tiru,” ujarnya.

Sebagai bentuk apresiasi, Mercure Solo memberikan bantuan sembako serta layanan pijat relaksasi khusus bagi para buruh gendong perempuan.

 “Aksi ini bukan sekadar simbolik, tetapi bentuk empati dan penghormatan atas kerja keras mereka,” imbuhnya.

Baca Juga:  Kartini Masa Kini: Sri Rahayuningsih, Istri Wakil Bupati Wonogiri Setyo Sukarno "Emansipasi Bergeser: Dari Hak Belajar ke Ketahanan Keluarga"

Menurut Dodit, peran buruh gendong sangat penting dalam aktivitas pasar. Tanpa mereka, distribusi barang tidak akan berjalan seefektif sekarang. “Mereka adalah Kartini masa kini yang berperan besar dalam roda ekonomi Kota Surakarta,” tegasnya.

Salah satu buruh gendong, Indarti, mengaku telah lebih dari 35 tahun menjalani profesi tersebut. Dia merasa senang mendapat perhatian di momen Hari Kartini.

“Biasanya yang mijitin anak saya kalau pulang dari pasar. Saya sudah lebih dari 35 tahun jadi buruh gendong di sini,” ungkapnya.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Menjadi "Ibu" bagi Rakyatnya

Dulu, dia mampu mengangkut barang hingga satu setengah kuintal dalam sekali angkut. Namun kini, seiring bertambahnya usia, kemampuannya berkurang menjadi sekitar satu kuintal.

Dalam sehari, Indarti hanya mampu mengangkut barang sebanyak empat hingga lima kali. Upah yang diterima pun berkisar antara Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu per angkut.

 “Ya tergantung yang ngasih, biasanya segitu,” katanya.

Baca Juga: Kartini Masa Kini: Profil Wakil Bupati Boyolali Dwi Fajar Nirwana, Mengayomi dan Perjuangkan Nasib Perempuan Desa

Meski penghasilan tak menentu dan kondisi fisik semakin menurun, Indarti tetap setia menjalani pekerjaannya. Baginya, dari pekerjaan itulah kebutuhan keluarga dapat terpenuhi.

 “Dari sini saya dapat penghasilan, insyaallah cukup, meskipun sekarang pasar semakin sepi,” pungkasnya. (alf/nik)

 
Editor : Niko auglandy
#Kartini #solo #Pasar Legi #buruh gendong