Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Vespa Darling Berkumpul di Lokananta Solo, Seolah Memasuki Mesin Waktu

Arief Budiman • Sabtu, 25 April 2026 | 16:30 WIB

 

Pameran Vespa Darling di kawasan Lokananta Solo, Sabtu (25/4/2026) jadi magnet pehobi motor vespa dari berbagai daerah. (Arief Budiman/Radar Solo)
Pameran Vespa Darling di kawasan Lokananta Solo, Sabtu (25/4/2026) jadi magnet pehobi motor vespa dari berbagai daerah. (Arief Budiman/Radar Solo)

 

RADARSOLO.COM – Terik panas matahari di halaman Lokananta, Solo, Sabtu (25/4/2026) seolah jadi mesin waktu. Deru mesin 2-tak bersahut-sahutan pelan. Bukan bising, tapi seperti dengung nostalgia.

Lebih dari 100 Vespa Darling dari seluruh penjuru Indonesia terparkir rapi. Tubuhnya kecil, mungil, tapi auranya menggetarkan.

“Small Frame Big Culture” — tajuk itu bukan sekadar slogan. Ia terasa nyata di setiap lekuk bodi besi yang menua dengan anggun.

Vespa Darling memang beda. Disebut small frame karena dimensi rangkanya yang kompak, jauh lebih ramping dibanding Vespa keluarga besarnya.

Baca Juga: Persis Solo Tantang Persija di GBK, Milo: Ini Motivasi Tampil Lebih Baik

Lahir di era 1950–1960an, dengan kapasitas mesin hanya 50cc sampai 125cc, motor ini dulu diciptakan untuk mobilitas kota-kota sempit Eropa.

Namun justru karena itu ia jadi langka. Di Indonesia, jumlahnya terbatas. Di dunia pun sama. Bertemu satu saja sudah rezeki, apalagi seratus.

Tofa, salah seorang panitia dari Darling Owner Indonesia, berdiri di antara jejeran motor sambil sesekali mengelap setang yang berkilat.

Baca Juga: Jejak Sejarah Makam Nyi Ageng Karang di Karanganyar: Jadi Jujugan Ziarah Pejabat

”Darling ini unik. Bentuknya kecil, tapi ceritanya besar. Banyak yang nggak tahu, di Indonesia populasinya mungkin cuma ratusan. Makanya kami bikin pameran sekaligus fun trail ini, biar budaya small frame nggak punah,” ujarnya.

Yang jadi magnet pameran kali ini adalah satu unit Vespa Darling yang masih komplet dan orisinal. Bukan cuma cat dan emblemnya, tapi sampai ke faktur pembelian pertama dan lembar pajak yang masih tersimpan rapi.

Kertasnya menguning, tintanya mulai pudar, tapi nilainya tak ternilai. Motor itu jadi bukti hidup sejarah. Paling langka lagi ada unit yang disebut Vespa Pedali. Vespa tapi punya pedal, persis seperti sepeda onthel.

Di zamannya, pedal ini berfungsi untuk mengayuh saat mesin mati atau membantu tanjakan. Sekarang, melihat Vespa bisa dikayuh adalah pemandangan yang hampir mustahil.

”Pedali ini barang ghoib. Di dunia aja bisa dihitung jari. Di Indonesia, yang ketahuan ya yang ini,” celetuk Tofa.

Baca Juga: Mediasi Buntu, Korban Jeratan Kabel Wifi di Sragen Belum Terima Ganti Rugi

Acara Vespa Darling Exhibition dan Fun Trail di Lokananta bukan sekadar kumpul-kumpul. Siang diisi pameran, edukasi sejarah, dan sharing restorasi.

Sore, seratus lebih Darling itu bergerak pelan menyusuri kota, knalpotnya meniupkan asap tipis yang harum bensin campur oli samping — aroma yang bagi pecintanya adalah parfum masa lalu.

Di tengah gempuran motor listrik dan bodi bongsor, Vespa Darling membuktikan satu hal: kecil bukan berarti kalah.

Baca Juga: El Nino Mengancam, BPBD Solo Petakan Mojosongo dan Kadipiro Sebagai Zona Rawan Kekeringan

Justru dari rangka mungil itu, lahir kultur besar-persaudaraan, kecintaan pada detail, dan komitmen merawat sejarah.

Lokananta siang itu tak hanya menyimpan arsip musik Indonesia. Ia juga jadi saksi, bahwa budaya bisa dihidupkan dari suara mesin 50cc yang setia berdetak sejak 60 tahun lalu. (rif/adi)

Editor : Adi Pras
#vespa darling #eropa #solo #vespa #lokananta