Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Menuju Konser Juli 2026, Pesona Lagu Dolanan Anak Kembali Memikat Publik Kota Solo

Antonius Christian • Minggu, 26 April 2026 | 16:20 WIB
Anak-anak menikmati lagu dolanan di area Stadion Manahan, Solo, Minggu (26/4/2026). (A Christian/Radar Solo)
Anak-anak menikmati lagu dolanan di area Stadion Manahan, Solo, Minggu (26/4/2026). (A Christian/Radar Solo)

RADARSOLO.COM — Di tengah derasnya arus budaya digital yang kian menggeser ruang ekspresi tradisional, upaya menghidupkan kembali lagu dolanan anak mulai digelorakan di Kota Bengawan. Sejumlah penggiat seni mencoba menarik kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap tembang-tembang lama yang sarat makna melalui pendekatan yang lebih segar dan kontekstual.

Langkah nyata tersebut terlihat dalam gelaran pra-konser yang berlangsung di kawasan Pintu Selatan Stadion Manahan, Minggu (26/4). Di sela aktivitas warga berolahraga pagi, lantunan lagu dolanan terdengar syahdu dibawakan oleh kelompok paduan suara anak-anak.

Baca Juga: Link Nonton Veda Ega Pratama di Moto3 Spanyol 2026 Sore Ini, Gratis di TV Trans7 Dukung Aksi Wonderkid Indonesia

Kehadiran mereka bukan sekadar hiburan spontan, melainkan sebuah pernyataan atas kegelisahan terhadap redupnya eksistensi lagu tradisional di kalangan generasi muda. Tembang-tembang ikonik seperti Cublak-Cublak Suweng, Gundul-Gundul Pacul, Kidang Talun, hingga Pitik Tukung kembali digaungkan di ruang publik.

Salah satu panitia pelaksana, Antonia Filicia Esa Rindi, menyebut kegiatan ini sebagai upaya memperkenalkan ulang kekayaan musikal tradisi kepada "anak zaman sekarang" yang tumbuh besar di era gawai.

“Kami berkumpul di Stadion Manahan untuk memperkenalkan kembali lagu-lagu tradisi kepada anak-anak di era digital ini. Lagu seperti Gundul-Gundul Pacul itu sebenarnya bukan sekadar musik, tapi mengandung makna filosofis yang dalam. Ini juga menjadi ruang agar ekosistem paduan suara di Solo terus berkembang,” terang Antonia.

Baca Juga: Dapure Cah-Cah: Aksi Solidaritas Anak Muda di Klaten Lewat Lapak Baju Gratis

Menurutnya, lagu dolanan memiliki nilai pembentukan karakter yang sangat kuat. Namun, tanpa upaya pengemasan ulang dan sosialisasi masif, warisan luhur tersebut berpotensi semakin ditinggalkan oleh zaman.

Nada serupa disampaikan oleh Lian, salah satu peserta anak yang terlibat dalam pra-konser. Ia mengakui kegiatan ini bertujuan mengingatkan masyarakat bahwa lagu lawas memiliki keindahan melodi dan kedalaman arti.

“Tadi kami mempromosikan konser mendatang. Kami menyanyi agar orang-orang di zaman digital ini ingat lagi kalau lagu zaman dulu itu enak didengar dan punya arti yang dalam,” ungkap Lian dengan antusias.

Baca Juga: Ribuan Anak Meriahkan Pentas Seni Lincah Berkiprah Ala Bocah, Bunda PAUD Venessa Respati: Momentum Pas Belajar Budaya Nusantara

Peserta lainnya, Jeje, menambahkan bahwa aksi di Stadion Manahan ini merupakan bagian dari rangkaian menuju pertunjukan utama yang dijadwalkan berlangsung pada pertengahan tahun ini.

“Ini adalah pra-konser. Untuk konser utamanya akan digelar pada 25 Juli 2026 di Auditorium RRI Solo. Rencananya akan ada dua sesi pertunjukan, yakni pada sore dan malam hari,” jelas Jeje.

Melalui gerakan ini, diharapkan lagu dolanan tidak lagi menjadi asing di telinga anak-anak Solo, melainkan kembali menjadi bagian dari identitas budaya yang dibanggakan. (atn)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#warisan luhur #digital #budaya #tradisi #dolanan anak