Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Hari Tari Dunia 2026, Ribuan Penari Lokal Dan Mancanegara Meriahkan 24 Jam Menari Di Kampus ISI Surakarta

Alfida Nurcholisah • Rabu, 29 April 2026 | 16:17 WIB
Aksi panggung penari mancanegara yang memeriahkan 24 Jam Menari, dalam rangka Hari Tari Dunia 2026 di kampus ISI Surakarta, Rabu (29/4). (Arief Budiman/Radar Solo)
Aksi panggung penari mancanegara yang memeriahkan 24 Jam Menari, dalam rangka Hari Tari Dunia 2026 di kampus ISI Surakarta, Rabu (29/4). (Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Ribuan penari padati area Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, memeriahkan 24 Jam Menari dalam rangka Hari Tari Dunia 2026, Rabu (29/4).

Para penari dari berbagai daerah di tanah air hingga mancanegara ini tampil menghiasi setiap sisi kampus ISI.

Memasuki usia dua dekade, 24 Jam Menari kian menegaskan bahwa kesenian tari tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi sebagai ruang inklusivitas, dialog lintas budaya, serta medium yang menembus batas tradisi dan modernitas.

Rektor ISI Surakarta Bondet Wrahatnala menyampaikan, agenda ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk komitmen civitas akademika dalam merawat dan mengembangkan praktik tari sebagai bagian dari kehidupan sosial budaya.

Baca Juga: Maling Pecah Kaca Mobil Pegawai Perempuan ATR/BPN Sukoharjo, Tas Dan Dokumen Penting Raib

“Dua dekade perjalanan ini bukan sekadar penanda kontinuitas agenda tahunan, namun merupakan representasi komitmen institusi dalam merawat, mengembangkan, dan mendiseminasikan praktik tari dalam kehidupan sosial budaya yang dinamis,” ujarnya.

Menurutnya, tari tidak hanya dipahami sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai praktik sosial yang memproduksi makna, membangun relasi, serta merefleksikan struktur dan dinamika masyarakat.

Bondet menambahkan, 24 Jam Menari dapat dibaca sebagai ruang produksi kultural, di mana berbagai identitas, nilai, dan gagasan bertemu, bernegosiasi, hingga melahirkan bentuk ekspresi baru.

Baca Juga: Cerita Wakil Kepala SMPN 1 Tulung Klaten yang Lolos dari Gejala Keracunan Diduga Akibat Menu MBG: “Saya Tidak Makan Telur Puyuhnya”

Tema “Tanpa Batas Menembus Medan Budaya”, lanjutnya, tidak hanya merujuk pada perluasan ruang geografis, tetapi juga dekonstruksi sekat-sekat simbolis antara tradisi dan modernitas.

Menurutnya, alunan musik, gerakan badan serta interaksi yang terjalin tanpa henti selama 24 jam, menjadi simbol ketahanan budaya.

"Tari menjadi medium lintas batas. Baik bahasa, identitas, maupun sosial yang membangun kesadaran kolektif serta membuka ruang inklusivitas bagi berbagai kelompok," imbuh Bondet.

Direktur Bina SDM Lembaga dan Pranata Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) RI Syukur Asih Suprojo menilai, konsistensi penyelenggaraan selama 20 tahun menjadi bukti kuat komitmen ISI Surakarta dalam memajukan seni tari di Indonesia.

“Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat. Ini menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga, mengembangkan, serta memajukan seni tari sebagai bagian penting kebudayaan kita,” ujarnya.

Syukur menambahkan, di tengah dunia yang semakin cair batasnya, seni tari justru menemukan relevansi baru sebagai bahasa universal yang hidup. Menurutnya, tari tidak lagi sekadar representasi budaya yang statis, tetapi terus bergerak, merespons, dan menafsirkan ulang dunia di sekitarnya.

Baca Juga: Hasil Tryout TKA Di Solo Keluar, Ini Daftar 10 Besar SD dan SMP

Sejalan dengan hal tersebut, salah satu maskot dari sembilan penari utama, Sekar Tri Kusuma mengungkapkan persiapannya selama lima bulan terakhir. 

"Aku sempat ikut meditasi selama sepuluh hari nonstop, didampingi juga. Bagiku untuk mempersiapkan 24 jam menari ini tidak hanya kekuatan fisik saja yang dilatih, melainkan energi dalam diri juga perlu dikembangkan supaya bisa konsisten bergerak selama 24 jam," ungkapnya sembari menari.

Sekar berharap, melalui momentum ini dapat menjadi pembelajaran sekaligus refleksi hidup dalam setiap alunan musik, gerakan tubuh dan interaksi yang terjalin.

"Bagiku, menari adalah penderitaan yang aku nikmati sepanjang hidup," tutupnya. (alf/fer)

Editor : fery ardi susanto
#HARI TARI DUNIA 2026 #isi surakarta #24 Jam Menari