Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @gkrtimoer, putri tertua Paku Buwono (PB) XIII tersebut mengeluhkan pergantian kunci pada pintu Bangsal Magangan yang dilakukan dalam beberapa hari terakhir. Menurutnya, tindakan tersebut menghambat mobilitas kendaraan keluarga hingga distribusi sesaji yang dilakukan secara rutin.
"Sudah tiga sampai empat kali saya harus mengetuk pintu karena Magangan digembok oleh LDA. Seharusnya ada solusi kompromi (win-win solution); jika gembok diganti, berikan satu kuncinya kepada kami agar semua pihak tetap bisa mengakses area tersebut tanpa saling membatasi," ujar GKR Timoer dalam video unggahannya.
Ia mengaku sempat membuka paksa kunci yang terpasang karena merasa tidak diberikan akses. GKR Timoer juga mempertanyakan dasar kebijakan tersebut, baik dari sisi legitimasi internal keraton maupun keterkaitannya dengan regulasi di bawah Kementerian Kebudayaan RI.
Merespons hal tersebut, Ketua Eksekutif LDA Keraton Surakarta KPH Eddy Wirabhumi membantah adanya penguncian sepihak yang bertujuan menghalangi aktivitas keluarga. Ia menegaskan bahwa sistem buka-tutup pintu dilakukan oleh petugas jaga sesuai dengan tata kelola dan SOP keamanan keraton.
"Pergantian gembok itu sudah dilakukan empat hari lalu. Kawasan keraton memiliki aturan tersendiri dan tidak bisa diperlakukan seperti properti pribadi. Pintu belakang tersebut memiliki jam operasional, misalnya ditutup total pukul 01.00 WIB dan dibuka kembali pukul 05.00 WIB," tegas Eddy, Rabu (29/4).
Eddy menambahkan, setiap orang keraton semestinya sudah memahami kapan akses pintu ditutup penuh selama 24 jam. Pihaknya menyatakan akses akan tetap diberikan sepanjang melalui prosedur yang berlaku dengan meminta bantuan petugas jaga.
Hingga saat ini, belum ada pertemuan resmi antara kedua belah pihak untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Perbedaan pandangan ini semakin mempertegas belum adanya kesepahaman di internal keraton, khususnya terkait otoritas pengelolaan ruang dan akses fisik ke dalam istana Keraton Solo. (ves)
Editor : Kabun Triyatno