RADARSOLO.COM - BPJS Kesehatan KC Teras kembali meningkatkan kualitas layanan bagi peserta, melalui pengembangan aplikasi skrining riwayat kesehatan.
Langkah ini dilakukan untuk mendeteksi resiko penyakit sejak dini sekaligus mendorong upaya preventif yang lebih optimal.
Kepala Bagian Penjaminan Manfaat dan Utilisasi Fatma Kurniawati menjelaskan, melalui aplikasi tersebut peserta dengan risiko kesehatan tertentu akan mendapatkan pengingat (reminder) untuk melakukan pemeriksaan di fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama.
“Peserta yang terdeteksi berisiko akan diarahkan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut, sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” ujarnya, Kamis (30/4).
Baca Juga: BPJS Kesehatan Surakarta Gandeng Tokoh Agama, Perkuat Sosialisasi JKN Lewat Buku Khotbah
Selain skrining, BPJS Kesehatan juga memperkuat program pengelolaan penyakit kronis (Prolanis) yang menyasar penderita diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi.
Program ini meliputi berbagai layanan seperti konsultasi kesehatan, pelayanan obat, pemeriksaan penunjang, hingga edukasi melalui kegiatan senam Prolanis.
Tak hanya itu, kemudahan akses layanan juga diperkuat melalui Program Rujuk Balik (PRB).
Program ini memungkinkan peserta, khususnya pasien lanjut usia dengan kondisi stabil, untuk tidak lagi rutin ke rumah sakit dan cukup dilayani di faskes tingkat pertama.
"Alur PRB dimulai dari peserta yang mendapatkan perawatan dokter spesialis di rumah sakit, kemudian mendaftar surat rujuk balik beserta resep obat, sehingga selanjutnya dapat dilayani di faskes tingkat pertama," jelas Fatma.
Melalui program tersebut, peserta cukup menebus obat di apotek PRB yang telah bekerja sama.
Bahkan, lanjutnya, beberapa apotek kini telah menyediakan layanan pengantaran obat ke faskes tingkat pertama guna memudahkan peserta.
Sementara itu, Kepala Bagian Mutu Layanan Kepesertaan Hardianto Wijoyo menekankan, peningkatan kualitas program diharapkan berbanding lurus dengan tingkat keaktifan peserta.
Hal ini merujuk pada data keaktifan peserta BPJS se-KC Surakarta segmen Peserta Bukan Penerima Upah (PBPU) mandiri, hanya 58,1 persen aktif sedangkan 41,93 persen lainnya tidak aktif.
"Faktornya biasanya karena mereka berhenti bayar iuran," imbuhnya.
Untuk mendukung kemudahan akses layanan, BPJS Kesehatan juga menghadirkan inovasi layanan digital bernama VIOLA (Virtual Office Layanan Peserta).
Layanan ini memungkinkan peserta melakukan konsultasi secara virtual.
Ia menegaskan, layanan ini rutin dilakukan setiap bulan di tujuh puskesmas area Solo Raya.
Dengan berbagai inovasi tersebut, ia berharap peserta dapat memperoleh layanan kesehatan yang lebih mudah, cepat, dan berkelanjutan.
"Ketika program yang kita jalankan sudah sesuai dan meningkat maka kita harapkan keaktifannya juga tinggi," pungkasnya. (alf)
Editor : Nur Pramudito