RADARSOLO.COM – Satlantas Polresta Solo menggelar pembinaan intensif terhadap para sukarelawan pengatur lalu lintas (Supeltas) di wilayah Kota Solo. Kegiatan ini diisi dengan pemberian rompi baru, pengarahan teknis, hingga pembekalan etika pengaturan lalu lintas yang aman dan benar.
Kasatlantas Polresta Solo, Kompol Dhayita Daneswari, menyatakan bahwa pembinaan ini merupakan bentuk apresiasi sekaligus upaya meningkatkan kapasitas para relawan yang selama ini menjadi mitra kepolisian dalam mengurai kepadatan di berbagai titik krusial.
“Kami memberikan pembinaan kepada 100 personel Supeltas binaan Polresta Solo. Selain pemberian rompi, kami memberikan pemahaman teori dan implementasi lapangan mengenai 12 gerakan pengaturan lalu lintas serta etika di jalan raya,” ujar Dhayita, Kamis (7/5).
Baca Juga: Kisah Isma Wijayanti: Sukses Olah Rempah Kediri Jadi Teh Celup Modern Beromzet Rp 25 Juta
Dhayita menegaskan bahwa aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Para Supeltas biasanya diterjunkan pada jam-jam crowded, seperti saat keberangkatan dan kepulangan kerja maupun jam operasional sekolah.
“Keberadaan mereka sangat membantu mencegah kecelakaan. Hasil evaluasi kami menunjukkan banyak kecelakaan dipicu oleh ketidakteraturan arus. Dengan adanya pengaturan dari rekan-rekan Supeltas, risiko tersebut bisa diminimalisasi,” tandasnya.
Ketua Paguyuban Supeltas Solo, Narno, mengaku bersyukur atas perhatian dari pihak kepolisian. Pria yang telah bertugas di Perempatan Kilat Nonongan sejak 2014 ini menegaskan bahwa semangat pengabdian menjadi modal utama rekan-rekannya.
“Kami bekerja secara ikhlas. Paling utama adalah bisa bermanfaat untuk masyarakat Kota Solo dalam menjaga ketertiban dan menekan angka kecelakaan,” ujar warga Baki, Sukoharjo tersebut.
Baca Juga: Akses Menuju Kebun Alpukat Miki Di Polokarto Amburadul, Rabat Beton Dikebut
Kisah menarik juga datang dari Retno Esliningtyas, salah satu Supeltas perempuan yang sudah lima tahun bertugas di kawasan Pertigaan Kalitan. Ibu rumah tangga ini memilih menjadi Supeltas karena waktu kerja yang fleksibel sehingga tetap bisa mengurus anaknya yang masih SD.
Meski demikian, Retno tak menampik adanya risiko pekerjaan di jalan raya. “Pengalaman buruk ya pernah kesampluk (terserempet) spion kendaraan saat mengatur arus. Tapi dengan adanya pembinaan ini, kami jadi lebih tertata dan paham teknik yang benar,” ungkap Retno.
Walaupun penghasilan yang didapat dari pemberian sukarela pengguna jalan tidak menentu, para Supeltas ini tetap berkomitmen menjaga marwah Kota Solo sebagai kota yang tertib berlalu lintas. “Yang penting cara mengelolanya (manage),” pungkasnya. (atn)
Editor : Kabun Triyatno